SUNGAILIAT — Lonjakan tiga kasus malaria dalam waktu singkat mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka memperketat pengendalian penyakit di wilayah endemis. Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Bangka, Anggia Murni, mengatakan pihaknya sudah menjalankan lima langkah proteksi secara simultan.
“Langkah proteksi efektif mencegah penyebaran penyakit malaria dengan melakukan deteksi dini atau skrining penemuan kasus malaria,” kata Anggia di Sungailiat, Rabu.
Data Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) yang dihimpun dari laporan puskesmas menunjukkan distribusi kasus yang timpang. Puskesmas Belinyu menangani 109 pasien malaria, sementara empat puskesmas lain hanya mencatat angka satu hingga empat kasus. Puskesmas Gunung Muda dan Puskesmas Pemali masing-masing satu kasus, Puskesmas Riau Silip empat kasus, dan Puskesmas Sinar Baru satu kasus.
Temuan ini menjadikan total kasus malaria di Kabupaten Bangka menjadi 119, naik dari 116 kasus pada periode sebelumnya. Anggia menyebut peningkatan ini masih dalam tahap terkendali, namun tetap memerlukan intervensi agresif agar tidak meluas.
Dinkes Bangka tidak hanya mengandalkan pengobatan. Setidaknya ada lima strategi yang dijalankan secara berlapis. Pertama, deteksi dini melalui skrining aktif di masyarakat. Kedua, pengobatan kasus malaria dan tindak lanjut. Ketiga, indoor residual spray (IRS) atau penyemprotan insektisida di dalam rumah kasus. Keempat, pemberian larvasida di laguna atau kolong bekas tambang yang menjadi tempat perindukan nyamuk. Kelima, pengawasan ketat terhadap mobilitas pasien.
“Berbagai langkah itu kami lakukan karena diketahui kasus malaria mengalami peningkatan dari 116 kasus menjadi 119 kasus atau meningkat tiga kasus malaria,” ujar Anggia.
Anggia menekankan bahwa intervensi petugas saja tidak cukup tanpa partisipasi masyarakat. Ia mendorong warga melakukan pencegahan mandiri, seperti gotong royong membersihkan lingkungan dan menguras tempat penampungan air di sekitar rumah. “Dengan berbagai tindakan itu, kami berharap angka kasus malaria tidak terjadi peningkatan kembali bahkan menurun,” kata dia.
Kabupaten Bangka selama ini dikenal sebagai wilayah endemis malaria, terutama di daerah bekas tambang timah yang meninggalkan banyak kolong air. Genangan air tersebut menjadi habitat ideal nyamuk Anopheles penyebab malaria. Dinkes berencana memperluas cakupan larvasidasi ke titik-titik kolong baru yang teridentifikasi sebagai tempat perindukan.