PANGKALPINANG — Sebanyak 25 mahasiswa Teknik Elektro Universitas Bangka Belitung (UBB) mendapat kesempatan melihat dari dekat jantung sistem kelistrikan Kepulauan Bangka Belitung. PT PLN (Persero) Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk (ULTG) Bangka membuka pintu Gardu Induk Air Anyir untuk sesi edukasi lapangan yang dikaitkan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila.
Dalam kunjungan itu, para mahasiswa tidak hanya mendengar teori. Tim PLN memperlihatkan langsung peralatan utama gardu induk, mulai dari transformator daya, pemutus tenaga (circuit breaker), pemisah (disconnecting switch), hingga sistem proteksi yang menjaga keandalan listrik di wilayah tersebut.
Materi yang paling ditekankan adalah keselamatan ketenagalistrikan di sekitar SUTT 150 kV. PLN memperingatkan potensi bahaya dari aktivitas yang melanggar ketentuan ruang bebas jaringan, seperti mendirikan bangunan di bawah SUTT, membakar lahan di dekatnya, atau menerbangkan layang-layang yang bisa menyentuh kabel transmisi.
Manager PLN ULTG Bangka, Teddy Maradona, menyebut kegiatan ini sebagai langkah strategis menjangkau kalangan akademisi. “Momentum Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa memerlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan. Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dapat menjadi agen edukasi yang turut menyebarluaskan informasi keselamatan ketenagalistrikan kepada masyarakat,” ujarnya.
General Manager PT PLN (Persero) UIW Bangka Belitung, Ira Savitri, menambahkan bahwa tanggung jawab perusahaan tidak hanya pada keandalan pasokan listrik. “Kami ingin memperkenalkan peran penting infrastruktur transmisi dan gardu induk serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keselamatan ketenagalistrikan. Kami berharap mahasiswa dapat menjadi generasi yang kompeten, adaptif, dan siap berkontribusi dalam mendukung pembangunan ketenagalistrikan serta transisi energi di Indonesia,” jelas Ira.
Wahri Sunanda, dosen Program Studi Teknik Elektro UBB yang mendampingi mahasiswa, mengapresiasi kesempatan belajar di luar kampus ini. Menurutnya, kunjungan ke gardu induk memberikan nilai tambah yang tidak bisa didapatkan dari ruang kelas.
“Mahasiswa dapat melihat secara langsung implementasi teori yang selama ini dipelajari di perkuliahan. Selain memahami fungsi gardu induk dan sistem transmisi tenaga listrik, mereka juga memperoleh wawasan mengenai aspek keselamatan yang menjadi prioritas utama dalam pengelolaan sistem ketenagalistrikan,” kata Wahri.
Melalui kolaborasi dengan dunia pendidikan ini, PLN menegaskan komitmennya meningkatkan literasi kelistrikan masyarakat. Sinergi antara industri dan akademisi diharapkan terus terjalin untuk mencetak sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan transisi energi nasional. (*)