PANGKALPINANG — Kejadian ini bukan yang pertama. Sejak November 2025, warga Bangka Belitung sudah tiga kali mengalami antrean panjang di SPBU. Setelah mereda pada April dan Mei, Juni lalu kelangkaan kembali muncul. Kini, di awal Juli 2026, pemandangan kendaraan mengular hingga ke badan jalan kembali terlihat di beberapa titik.
Di Kecamatan Mentok, Bangka Barat, antrean mobil di SPBU Kampung Jawa mencapai sekitar 500 meter hingga keluar jalan. Sepeda motor juga memenuhi area pengisian. Salah satu warga, Nura (32), mengaku terganggu karena harus menunggu hampir satu jam untuk mengisi Pertalite.
“Hampir satu jam, biasanya tidak seperti ini. Kebetulan lagi mau ke Pasar. Ini memakan waktu untuk aktivitas lainnya. Harapannya, ya diperbaiki lah sistemnya biar tidak terlalu panjang antre,” katanya, Rabu (8/7/2026).
Warga lain, Ati, menyampaikan keluhan serupa. Ia mengaku sempat melihat kendaraan yang mengisi BBM tanpa mengikuti antrean di SPBU Pal 3. Ia meminta pemerintah dan petugas lebih tegas agar tidak ada pihak yang dirugikan.
“Saya sempat mengisi ada yang mengisi tidak antre, pemerintah dan petugas harus tegas supaya tidak ada yang dirugikan,” ujarnya.
Pengelola SPBU Kampung Jawa, Karli, mengatakan antrean mulai terjadi sejak Senin lalu. Ia mengakui sempat ada pengurangan pasokan Pertalite sebesar delapan kiloliter, namun saat ini distribusi sudah kembali normal sebanyak 24 kiloliter per pengiriman.
“Kurang tahu penyebab antrean, pasokan biasa normal. Cuman hari kemarin lah yang ada pengurangan 8 kiloliter. Sekarang biasa kami dikirim 24 kiloliter,” katanya.
Menurut Karli, menambah kuota pasokan belum tentu menjadi solusi karena justru dikhawatirkan memperpanjang kepadatan di SPBU. “Kalau suplai ditambahkan percuma juga, karena antrean ini pastinya rame juga. Otomatis kita jam kerja bertambah, otomatis macet pun bertambah,” ujarnya.
Kelangkaan juga terjadi di Pulau Belitung. Antrean panjang terlihat di sejumlah SPBU, dan dampaknya langsung terasa di tingkat pedagang eceran. Harga Pertalite di kios-kios kecil dilaporkan meroket hingga Rp13.000 per liter.
Sebelumnya, pada Maret 2026, antrean serupa juga terjadi setelah beredar informasi di media sosial bahwa ketahanan stok BBM hanya cukup untuk 20 hari. Integrated Terminal Manager Pangkal Balam, Tri Awan Nusa Putra, menyatakan informasi itu tidak benar.
“Ketika kami tanyakan, sebagian masyarakat mengaku mengisi BBM karena mendengar informasi di berita dan media sosial bahwa stok hanya cukup 20 hari, sehingga mereka bersiap dari sekarang,” jelasnya.
Pertamina memastikan stok BBM di Bangka Belitung dalam kondisi aman, termasuk untuk kebutuhan Ramadan dan Idulfitri saat itu. Namun, pola antrean yang berulang ini menunjukkan ada persoalan sistemik yang belum terselesaikan.