Saham Lucid (LCID) Anjlok 40% dalam Sehari Akibat Rumor Bangkrut, Perusahaan Bantah Keras

Penulis: Ricki Manurung  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 02:32:31 WIB
Saham Lucid (LCID) anjlok 40 persen dalam perdagangan intraday setelah beredar rumor kebangkrutan yang kemudian dibantah manajemen.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Rumor yang pertama kali muncul dari situs eletric-vehicles.com itu mengklaim bahwa dewan direksi Lucid telah mempertimbangkan opsi strategis, termasuk pengajuan Chapter 11 (kebangkrutan) atau menjadikan perusahaan privat. Laporan tersebut menyebut firma restrukturisasi AlixPartners telah memberikan rekomendasi tersebut kepada manajemen.

Kabar itu langsung membuat saham Lucid babak belur di bursa. Harga sahamnya ambles hingga 40% dalam perdagangan intraday dan memicu dua kali penghentian perdagangan (trading halt) karena volatilitas ekstrem. Efek domino juga terasa ke saham Rivian yang ikut tertekan.

Bantahan Langsung dari Manajemen Lucid

Kepala Komunikasi Lucid, Nick Twork, angkat bicara secara terbuka. “Rumor ini sepenuhnya palsu,” tegas Twork dalam pernyataannya. Ia menegaskan bahwa AlixPartners tidak pernah merekomendasikan kebangkrutan kepada manajemen atau dewan direksi.

Menurut Twork, AlixPartners hanya membantu Lucid meningkatkan efisiensi operasional — kerja sama yang sebenarnya sudah pernah dilaporkan oleh beberapa media sebelumnya. Ia juga memastikan tidak ada komite khusus yang dibentuk untuk menjajaki akuisisi atau restrukturisasi.

Kondisi Keuangan Lucid: Likuiditas Besar, Tapi Pembakaran Uang Masih Dahsyat

Data keuangan terbaru menunjukkan Lucid memiliki kas, setara kas, dan investasi sebesar US$714 juta per akhir kuartal I 2026, dengan total likuiditas sekitar US$3,2 miliar. Pada April lalu, perusahaan berhasil mengantongi tambahan dana US$1,05 miliar — termasuk US$550 juta dari saham preferen konversi yang diterbitkan untuk Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi dan US$200 juta dari Uber.

Dengan tambahan tersebut, likuiditas pro forma Lucid mencapai US$4,7 miliar, yang menurut analis cukup untuk mendanai operasional hingga akhir 2027. Namun, di sisi lain, Lucid masih membakar uang dalam jumlah besar. Perusahaan mencatat kerugian US$1,03 miliar pada kuartal I 2026 — hampir tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Sepanjang 2025, arus kas bebas negatif mencapai US$3,8 miliar dengan pengiriman hanya 15.800 unit.

Wall Street memperkirakan Lucid baru akan mencapai arus kas positif pada 2030, dengan proyeksi kerugian kumulatif US$6,7 miliar hingga 2028. Kondisi ini yang membuat investor sangat sensitif terhadap kabar buruk.

Mengapa Rumor Itu Begitu Berbahaya bagi Lucid?

Lucid memang sedang dalam fase sulit. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan telah memangkas 18% tenaga kerja pada Juni lalu — pemotongan besar kedua dalam empat bulan — dan merombak hampir seluruh jajaran direksi di bawah CEO baru, Silvio Napoli. Panduan produksi 2026 pun ditarik kembali.

Saham Lucid yang sempat menyentuh US$58 pasca debut SPAC pada 2021 kini telah ambles lebih dari 90%. Kombinasi antara PHK massal, pergantian manajemen, dan pembakaran uang yang terus berlanjut membuat pasar mudah percaya pada skenario terburuk.

Meski demikian, perlu dibedakan antara "kondisi tidak sehat" dan "akan bangkrut bulan depan". Dengan likuiditas yang masih cukup untuk bertahan hingga 2027, Lucid masih punya waktu untuk membuktikan diri lewat SUV Cosmos yang lebih terjangkau. Pertanyaan besarnya: seberapa lama PIF Arab Saudi sebagai pemilik mayoritas masih sabar menunggu? Itu yang akan menentukan nasib Lucid, bukan gugatan kebangkrutan dalam waktu dekat.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: electrek.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top