KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Data perdagangan menunjukkan IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.544,00 sebelum bergerak ke posisi terendah 6.507,43. Pada pukul 09.34 WIB, indeks bertengger di level 6.524,65, masih berada di atas penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.501,58.
Penguatan IHSG sejalan dengan indeks sektor energi yang naik tipis 6,84 poin atau 0,21% ke level 3.234,48. Kendati indeks sektoral menghijau, pergerakan saham-saham energi tidak seragam.
Raharja Energi Cepu menjadi pendorong utama penguatan sektor ini. Sahamnya melesat 6,34% ke level 4.530 dengan volume transaksi sekitar 5,06 juta saham. Kenaikan ini jauh di atas rata-rata pergerakan saham energi lainnya.
Beberapa emiten lain juga mencatat penguatan, meski dengan besaran yang lebih moderat:
Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi besar justru terpantau melemah. Bayan Resources menjadi yang paling terkoreksi dengan penurunan 1,85% ke level 15.875. Indika Energy juga turun 1,12% ke level 2.660, sementara Paragon Karya Perkasa melemah 0,82% ke level 3.640.
Indo Tambangraya terkoreksi 0,49% ke level 25.275 dan Adaro Andalan Indonesia melemah tipis 0,25% ke level 9.875. Pelemahan ini menunjukkan tekanan masih membayangi emiten batu bara berkapitalisasi besar, meski indeks sektoral secara keseluruhan masih bertahan di zona hijau.
Beberapa saham energi tercatat belum mengalami perubahan harga pada data pukul 09.34 WIB. Golden Energy Mines bertahan di level 6.675, sementara Prima Andalan Mandiri, Mitrabahtera Segara, ABM Investama, Super Energy, dan Bukit Asam juga belum menunjukkan pergerakan berarti.
Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar terhadap prospek sektor energi, terutama di tengah fluktuasi harga komoditas global. Pergerakan IHSG yang menguat pagi ini memberikan sentimen positif, tetapi investor tetap selektif dalam memilih saham sektoral.