KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Atlético Madrid mengalahkan Real Madrid 2-1 di Metropolitano di hadapan 70.514 penonton. José Mourinho datang ke ruang pers membawa selembar kertas berisi tangkapan layar dua pelanggaran yang ia nilai seharusnya berbuah kartu merah. Kekalahan itu membuat Madrid tertinggal enam poin di klasemen.
Laga derby Madrid berjalan panas sejak babak pertama. Mourinho duduk di ruang pers, melepas kacamatanya, lalu mengangkat selembar kertas. "Kita bisa hemat waktu konferensi pers," katanya, "karena ceritanya ada di sini."
Di balik kertas informasi Atlético itu tercetak dua tangkapan layar dari babak pertama. Gambar pertama memperlihatkan stud Cuti Romero mengenai lutut Jude Bellingham. Gambar kedua menampilkan Kang-in Lee menginjak pergelangan kaki Fede Valverde.
Mourinho menegaskan keduanya layak kartu merah. Wasit tidak mengeluarkan kartu untuk kedua insiden tersebut. Menurut Mourinho, seharusnya Madrid bermain sembilan melawan 11, bukan sebaliknya.
Yang terjadi justru sebaliknya. Di awal babak kedua, Dean Huijsen menjatuhkan Giuliano Simeone di kotak penalti. Wasit menunjuk titik putih dan mengusir Huijsen. Atlético memanfaatkan penalti itu untuk membuka keunggulan.
Mourinho menyebut momen itu sebagai akhir dari segalanya. Ia menghadapi lima pertanyaan wartawan. Empat di antaranya soal wasit, begitu pula jawaban untuk pertanyaan yang tidak soal wasit.
Mourinho menyoroti sosok wasit yang memimpin laga, berusia 41 tahun dan bukan wasit internasional. Ia menilai wasit tersebut tidak mampu menahan tekanan yang ia gambarkan "seperti tahun 1980-an".
Pelatih asal Portugal itu juga menyebut keputusan-keputusan dari ruang VAR yang dipimpin Daniel Trujillo Suárez. Ia berbicara soal "hal-hal aneh" yang terjadi, tapi menegaskan tidak ingin menuduh ada keburukan pada ofisial.
"Saya pikir saya akan kembali dan menemukan liga yang berbeda dari yang saya tinggalkan, tapi [di Madrid] mereka bilang tidak, dan menjelaskan alasannya," ujar Mourinho.
Di balik polemik wasit, ada persoalan permainan Madrid yang lebih mendasar. Atlético melepaskan tembakan lebih dari dua kali lipat jumlah tembakan Madrid. Tuan rumah juga menguasai dua pertiga penguasaan bola.
Mourinho nyaris tidak membahas soal sepak bola sebenarnya. Klaimnya bahwa Madrid bermain baik di babak pertama dan disiapkan untuk menang di babak kedua minim bukti. Pola tunggu dan serang balik yang ia andalkan terbaca oleh Atlético.
Simeone menyiapkan timnya untuk mengeksploitasi sisi kiri pertahanan Madrid. Atlético bermain hati-hati, tapi merekalah yang mengendalikan laga, bukan Madrid. Madrid nyaris tidak menciptakan peluang berarti sebelum insiden kartu, dan semakin tumpul setelahnya.
Mourinho pernah membaca 13 "kesalahan" wasit Clos Gómez 16 tahun lalu. Kini ia mengulang cara serupa di hadapan Simeone, yang meninggalkan kertas itu di ruang pers untuk dilihat pelatih Atlético tersebut.