KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Toyota bZ4X Touring membuktikan mobil listrik tidak harus takut tanah. Dengan harga Rp889 juta, satu motor listrik tambahan, dan mode off-road sungguhan, wagon listrik ini diposisikan sebagai opsi petualang di segmen EV yang harganya terus turun. Tapi ada satu catatan penting soal harga dan posisinya di lineup Toyota.
Pengujian dilakukan di Sirkuit Goro Assalam, Solo, pada pertengahan September lalu. Trek yang disiapkan bukan aspal mulus, melainkan medan overland: pasir, bebatuan, tanjakan terjal, dan turunan curam. Ini bukan kondisi yang biasanya dipakai untuk menguji mobil listrik penumpang, dan justru di situ bZ4X Touring ingin membuktikan sesuatu.
Toyota bZ4X Touring diluncurkan di GIIAS 2026 pada akhir Juli lalu dengan satu varian saja. Harganya Rp889 juta. Sebagai perbandingan, bZ4X generasi pertama yang masuk Indonesia dibanderol Rp1,19 miliar. Setelah bZ4X reguler dirakit di dalam negeri, harganya turun ke Rp799 juta OTR Jakarta.
Artinya, versi Touring hanya berjarak Rp90 juta dari bZ4X reguler. Selisih itu terbilang wajar mengingat Touring masih berstatus CBU, diimpor utuh dari Jepang. Produksinya dilakukan di pabrik Subaru di Yajima, Gunma, dengan nama kembaran Subaru Trailseeker.
Selisih harga itu tidak hanya soal emblem. Ada tiga hal konkret yang membedakan Touring dari bZ4X reguler:
Penambahan motor listrik di belakang membuat Touring memiliki penggerak semua roda. Kombinasi ini yang membuatnya mampu melewati medan yang tidak bisa dilalui bZ4X reguler.
Dari sisi ukuran, Touring memiliki panjang 4.830 mm, lebar 1.860 mm, dan tinggi 1.675 mm. Wheelbase tetap sama dengan bZ4X reguler di angka 2.850 mm. Yang ditambah hanya bagian belakang: 140 mm.
Tambahan 140 mm itu langsung berdampak pada ruang kargo. Bagasi membengkak dari 452 liter menjadi 600 liter, atau naik 148 liter. Untuk ukuran wagon listrik, angka ini masuk akal dan berguna untuk perjalanan jauh.
Di Indonesia, wagon adalah bentuk bodi yang jarang ditemui. Dulu identik dengan mobil Eropa mahal. Toyota mencoba mengubah persepsi itu dengan bZ4X Touring, dan hasilnya cukup menarik perhatian.
Kesan petualangnya dibangun lewat beberapa elemen: overfender hitam, pilar D yang lebih tegak, pelek 20 inci, dan roof rail kokoh. Beban di atap disebut mencapai sekitar 80 kg saat berjalan. Saat diam, kapasitasnya bisa 317 kg, cukup untuk menopang tenda atap.
Di Sirkuit Goro Assalam, bZ4X Touring diuji melewati pasir, bebatuan, tanjakan terjal, dan turunan curam. Hasilnya, tidak ada yang nyangkut. Mode off-road bekerja sesuai fungsinya, dan penggerak semua roda membantu mobil menjaga traksi di permukaan yang tidak stabil.
Perlu dicatat, pengujian ini dilakukan di trek tertutup dengan kondisi yang sudah disiapkan. Pengalaman di medan off-road sesungguhnya, dengan lumpur, air, atau batu besar, bisa berbeda. Untuk itu, diperlukan pengujian lebih lanjut di kondisi nyata.
Toyota bZ4X Touring cocok untuk pembeli yang ingin mobil listrik dengan kemampuan off-road ringan dan kapasitas bagasi besar, tapi tidak mau masuk ke segmen SUV listrik besar. Bentuk wagon-nya juga memberi nilai plus bagi yang ingin tampil beda.
Kurang cocok untuk pembeli yang mencari EV dengan harga paling kompetitif di kelasnya, atau yang membutuhkan performa off-road serius seperti Land Cruiser. Untuk kebutuhan harian di kota dengan sesekali keluar jalur, bZ4X Touring menawarkan kombinasi yang belum banyak tersedia di pasar Indonesia.