Cerita Jokowi Mati-matian Atasi Kemiskinan Ekstrem Digagalkan Covid

Berita31 Dilihat

Presiden Jokowi meyakini kemiskinan ekstrem akan menurun pada 2024. Menurutnya, hal tersebut sudah menjadi target di periode kedua masa jabatannya.

“Berkaitan dengan kemiskinan ekstrem, sebetulnya kita sudah rencanakan di periode kedua ini agar 2024 sudah pada posisi nol,” ujar Jokowi di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Selasa (6/6).

Ia mengaku sudah bekerja keras dan mati-matian untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem bersama pemerintah. Kerja keras itu salah satunya menggelontorkan anggaran pengentasan kemiskinan.

Ia mengklaim anggaran pengentasan kemiskinan terutama untuk bansos menjadi nomor dua terbesar setelah infrastruktur.

“Supaya kita tahu anggaran untuk bansos di negara kita besar sekali, di atasnya hanya infrastruktur. Artinya kalau target sudah keliatan, sangat mudah menyelesaikan,” katanya.

Namun katanya, tekat dan target itu diganjal pandemi covid-19.

“Kemiskinan ekstrem kita. Kita kerja keras dan mati-matian. Akan tetapi kita terkendala (covid) hampir 2,5 tahun,” tuturnya.

Meski terkendala, Jokowi yakin kemiskinan akan turun drastis pada 2024 lantaran ia sudah memiliki berbagai catatan penerima bansos. Syaratnya, semua kementerian, lembaga dan pemerintah daerah mau bahu membahu mengentaskan kemiskinan.

“Saya masih meyakini itu akan akan turun drastis pada 2024. Karena nama dan alamat sudah ada semua,” kata dia.

“Semuanya harus bersama. Bukan barang yang sulit tapi memang perlu konsolidasi dan waktu,” ujar Jokowi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR pada April lalu menyebut pemerintah kesulitan mengejar target penurunan kemiskinan ekstrem sampai 0 persen pada 2024.

Pemerintah karena itu menurunkan target pengentasan kemiskinan ekstrem nol pada 2024 diturunkan menjadi 2,5 persen. Untuk mencapai target nol, pemerintah perlu mengentaskan kemiskinan terhadap 5,6 juta orang pada 2024.

Penurunan target tersebut, kata Suharso, mengacu pada batas garis kemiskinan ekstrem versi Bank Dunia, yakni penghasilan US$2,15 per atau Rp32.035 per orang per hari (asumsi kurs Rp14.900 per dolar AS).

“Kalau kami pakai angka US$2,15, maka target kemiskinan ekstrem itu yang sekarang ini ada di level 3,2 persen dan kami mungkin cenderung hanya bisa menurunkan ke 2,5 persen (pada 2024),” katanya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (5/4).

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *