Curhat PJLP di Jakut: Warga Tak Bisa Kerja Sama Jaga Kebersihan Lingkungan

Nasional15 Dilihat

 

JAKARTA, – Petugas penyedia jasa lainnya perorangan (PJLP) dari Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Utara, Bahri (25), menyampaikan curahan hatinya (curhat) mengenai pekerjaan yang dia lakoni sejak enam tahun terakhir.

Curhat ini terucap dari mulut Bahri saat ia ditanya mengenai persoalan apa yang harus dibenahi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di usia ke-496 Ibu Kota.

Salah satu yang paling disorot Bahri adalah penghijauan di Jakarta Utara. Masyarakat dinilai belum sadar pentingnya mencintai alam.

“Saya rasa sih banyak kalau persoalan. Mulai dari segi lingkungan, penghijauan. Karena saya kan di pertamanan yang kayak begini. Ya masyarakat itu tidak bisa bekerja sama dengan petugas,” kata Bahri saat ditemui Kompas.com di Jalan Yos Sudarso, Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, belum lama ini.

“Ya enggak saling mencintai alam, pada sembarangan semua (buang sampahnya),” ucap Bahri melanjutkan.

Pria asal Madura itu berujar, seyogianya masyarakat dan petugas dapat berkolaborasi serta menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan.

“Ya harus terbuka dan sadar bahwa alam ini penting buat kita. Penghijauan itu bagi masyarakat sekitar sangat penting. Penghijauan segini saja juga masih panas, polusi masih banyak,” ujar Bahri sambil tertawa.

Terlepas dari permasalahan tersebut, Bahri yang merupakan seorang perantau di Ibu Kota sejak 2017 ini juga menyoroti banjir di Jakarta.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Ibu Kota, ia terkejut bahwa ada banjir di beberapa titik Jakarta. Tetapi, dia menilai permasalahan ini sudah berkurang seiring dengan waktu.

“Kalau banjir, untuk dari 2020 ke sini, sudah mengurang. Mungkin sudah lebih bagus untuk pekerjaannya dari tim SDA. Kalau dari 2020 ke sana, masih banjir. Ini sudah bagus kalau masalah penanggulangan banjir,” tutur Bahri.

Pria yang mencari nafkah di Ibu Kota ini menaruh harap untuk Jakarta yang baru saja berulang tahun.

“Tentunya sih lebih bagus kotanya. Kedua, mungkin lebih mudah dalam mencari pekerjaan untuk orang yang belum dapat pekerjaan. Karena, Jakarta ini saya rasa, kalau enggak salur menyalur, susah,” ungkap Bahri.

“(Maksudnya) bawaan. Sekarang cari pekerjaan di Jakarta, kalau enggak saling membawa, enggak bisa masuk. Ada orang-orang tertentu,” tutur Bahri lagi.

[KOMPAS]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *