JAKARTA — BRI menegaskan komitmennya menjaga momentum pertumbuhan kredit dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking). Bagi bank yang fokus pada pemberdayaan UMKM ini, pertumbuhan kredit tidak semata diukur dari besarnya penyaluran, melainkan juga dari kualitas aset yang dihasilkan.
Setiap proses penyaluran kredit dilakukan melalui asesmen ketat. Bank mempertimbangkan profil risiko debitur, prospek usaha, kemampuan membayar, hingga kondisi sektor industri yang dibiayai sebelum memutuskan memberikan pembiayaan.
Penguatan Kualitas Aset Sejak Awal
Penguatan kualitas aset dilakukan sejak tahap awal melalui proses underwriting yang disiplin. BRI juga menerapkan pemantauan kualitas kredit secara berkelanjutan serta sistem early warning untuk mengidentifikasi potensi risiko sedini mungkin.
"BRI tetap memiliki appetite untuk tumbuh dan menyalurkan kredit kepada sektor produktif. Namun, pertumbuhan tersebut harus dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan kualitas," ujar Ety Yuniarti.
Ia menambahkan, setiap ekspansi kredit dipastikan melalui proses asesmen risiko yang memadai. Dengan begitu, pertumbuhan bisnis dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan.
Prinsip Kehati-hatian Jadi Fondasi Penyaluran Kredit
Prinsip kehati-hatian menjadi fondasi dalam setiap keputusan penyaluran kredit BRI. Langkah ini merupakan bagian dari strategi memastikan ekspansi bisnis tetap sehat di tengah dinamika perekonomian nasional.
Dengan pendekatan ini, BRI berupaya menyeimbangkan target pertumbuhan pembiayaan dengan pengelolaan risiko yang prudent. Hal ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang serta melindungi kepentingan nasabah dan pemangku kepentingan.