PEKANBARU — Kepengurusan DPD Satkar Ulama Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung resmi terbentuk. Idris Laena memimpin pelantikan tersebut dan menyerahkan mandat kepemimpinan kepada Akmal Fauzi sebagai ketua.
Satkar Ulama Indonesia merupakan organisasi yang berafiliasi dengan Partai Golkar dan telah berdiri sejak 1970. Sejak awal pembentukannya, organisasi ini bertujuan membangun sinergi antara ulama, pemerintah, dan masyarakat.
Audiensi ke Gubernur Jadi Langkah Pertama
Akmal Fauzi menyatakan pihaknya akan segera membangun komunikasi dengan pemerintah daerah dan sejumlah lembaga keagamaan. Langkah awal yang direncanakan yakni melakukan audiensi dengan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Kantor Wilayah Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia, serta Forum Kerukunan Umat Beragama.
"Yang pertama, kita akan audiensi ke pemerintah daerah dulu, ke Gubernur, Kanwil Depag, MUI, dan FKUB. Kita sowan, kita samakan persepsi," kata Akmal.
Akmal menilai sinergi antara ulama dan umaro perlu diperkuat mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Ia berharap jangkauan komunikasi itu dapat mencapai pemerintahan desa.
Satkar Ulama Bukan Underbow Partai
Akmal menegaskan Satkar Ulama Indonesia bukan organisasi sayap yang wajib mengikuti seluruh perintah partai. Meski memiliki afiliasi dengan Partai Golkar, ia membedakan posisi organisasinya dari underbow partai.
"Selama ini anggapan orang Satkar Ulama itu underbow partai. Bukan underbow partai, tetapi berafiliasi. Kalau underbow itu wajib ikut perintah partai, kita tidak," ujarnya.
Idris Laena menambahkan peran Satkar Ulama tidak hanya terbatas pada kegiatan keagamaan. Organisasi ini juga mendorong penguatan ekonomi umat dan penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
"Tujuannya bagaimana membangun harmonisasi hubungan antara ulama, umaro, kemudian para umat untuk bisa ikut berjuang bersama-sama membangun bangsa kita," ujar Idris.
AMSI Dikerahkan untuk Pembinaan Generasi Muda
Kepengurusan baru Satkar Ulama Indonesia Bangka Belitung juga akan memberi perhatian terhadap pembinaan generasi muda melalui Angkatan Muda Satuan Karya Ulama Indonesia. Akmal berharap AMSI dapat berkolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, serta tokoh-tokoh muda.
Kolaborasi itu diarahkan untuk membantu mengurangi dampak negatif narkoba, minuman keras, dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
"AMSI ini akan menggerakkan pemuda yang ber-Ketuhanan. Kalau menghilangkan masalah itu tidak mungkin, tetapi minimal membantu mengurangi. Itulah peran AMSI yang sebenarnya," katanya.
Idris berharap seluruh unsur organisasi di Bangka Belitung dapat bergerak simultan. Ia menyebut Satkar Ulama, AMSI, dan Hwasi perlu bekerja sama mengaktifkan kegiatan organisasi.
"Harapan kami nanti kegiatan-kegiatan Satkar Ulama di Provinsi Bangka Belitung, baik melalui Satkar Ulamanya, kemudian ada bidang pemudanya AMSI, kemudian Hwasi, semua bisa bergerak simultan dan bekerja sama untuk mengaktifkan kegiatan organisasi," tuturnya.
Dukungan dari Partai Golkar Bangka Belitung
Bendahara DPD Partai Golkar Bangka Belitung Basit Cinda menyampaikan dukungan terhadap kepengurusan baru tersebut. Ia menilai Satkar Ulama perlu menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Yang penting untuk kebaikan, semuanya kita dukung. Apalagi ini bagian dari keluarga, pasti kita support," katanya.
Dengan dilantiknya kepengurusan baru, Satkar Ulama Indonesia Bangka Belitung diharapkan semakin aktif menjalankan program organisasi. Organisasi ini juga dituntut berkontribusi dalam pembinaan umat dan generasi muda di daerah.