KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Industri film dunia punya cara sendiri merawat tradisi minum teh lewat layar lebar, dari komedi romantis hingga drama sejarah. Tujuh judul berikut menampilkan kedai teh keluarga, upacara minum teh Jepang, sampai pertemuan budaya di Guangzhou dan Sydney. Masing-masing membawa konflik berbeda, tapi semuanya menempatkan teh sebagai bagian hidup yang diwariskan.
Five Blind Dates membuka daftar ini dengan pendekatan ringan. Film komedi romantis rilisan 2024 itu mengikuti Lia, perempuan pemilik kedai teh artisan di Sydney yang usahanya belum juga ramai.
Saat pulang ke Townsville untuk pernikahan adiknya, Lia menerima ramalan dari seorang peramal. Katanya, belahan jiwanya akan muncul lewat salah satu dari lima kencan buta berikutnya.
Ramalan itu membuat urusan asmara Lia makin pelik, apalagi keluarganya ikut memilihkan calon. Di tengah kekacauan itu, ia masih harus memikirkan cara menyelamatkan kedai tehnya.
Kaze no so no kimi e: Anak Muda dan Toko Teh Keluarga di Okayama
Dari Jepang, Kaze no so no kimi e (2024) mengambil latar Mimasaka, Prefektur Okayama, salah satu daerah penghasil teh di sana. Ceritanya berpusat pada Keiya, pemuda yang kehilangan arah setelah gagal ujian masuk.
Kakaknya, Junya, memilih jalan berbeda: meneruskan toko teh keluarga sekaligus mempromosikan budaya teh untuk menghidupkan kembali kotanya. Situasi berubah ketika Rika, pianis yang juga mantan kekasih Junya semasa kuliah, datang untuk konser.
Rika jatuh sakit usai tampil dan memutuskan beristirahat di Mimasaka. Kehadirannya membuka kembali luka lama dengan Junya, sementara Keiya diam-diam mulai menaruh hati. Film ini juga menyoroti upaya keluarga mempertahankan usaha teh mereka.
Black Tea: Aya Menolak Pernikahan dan Memulai Hidup Baru
Black Tea (2024) membawa penonton ke kisah Aya, perempuan asal Pantai Gading yang kabur dari pernikahannya sendiri. Ia meninggalkan negaranya dan memulai hidup baru di Guangzhou, Tiongkok.
Di kota itu, Aya berkenalan dengan Cai, pemilik toko teh Tiongkok yang mengenalkannya pada dunia teh lebih dalam. Hubungan keduanya menjadi jembatan antara dua budaya yang berbeda.
Film ini mengeksplorasi pertemuan budaya dan kedekatan antarmanusia, dengan teh sebagai titik temu. Konfliknya tumbuh dari perbedaan latar belakang, bukan sekadar kisah cinta biasa.
Every Day a Good Day: Filosofi Upacara Minum Teh Jepang
Every Day a Good Day (2018) mengikuti Noriko, mahasiswi yang belajar upacara minum teh atas saran ibunya. Bersama sepupunya, Michiko, ia dibimbing Guru Takeda.
Noriko awalnya hanya menghafal gerakan dan aturan. Lama-kelamaan ia menyadari tradisi itu bukan soal tata cara semata, melainkan cara memahami perasaan dan perubahan hidup.
Film ini menunjukkan bagaimana tradisi turun-temurun bisa memberi ketenangan, baik saat bahagia maupun sedih. Upacara minum teh di sini berfungsi sebagai cermin batin, bukan sekadar ritual.
Ask This of Rikyu: Sen no Rikyu dan Tekanan Kekuasaan
Ask This of Rikyu (2013) mengangkat kehidupan Sen no Rikyu, tokoh sentral dalam perkembangan upacara minum teh Jepang. Ia mulanya putra seorang pemilik toko ikan.
Keahlian Rikyu dalam seni minum teh menarik perhatian Toyotomi Hideyoshi, salah satu penguasa paling berpengaruh saat itu. Rikyu kemudian menjadi orang dekat sekaligus penasihat Hideyoshi.
Namun hubungan mereka menyimpan ketegangan. Nilai estetika yang dijunjung Rikyu berhadapan dengan ambisi politik sang penguasa, dan film ini memperlihatkan perjalanan sang ahli teh mempertahankan prinsipnya.
Death of a Tea Master: Murid yang Berusaha Mengenang Gurunya
Death of a Tea Master (1989) adalah drama sejarah yang berpusat pada Honkakubo, murid Sen no Rikyu. Ia berusaha mengenang dan melanjutkan ajaran gurunya setelah peristiwa tragis menimpa Rikyu.
Film ini menempatkan teh bukan hanya sebagai seni, tapi juga bagian dari pergulatan politik dan kesetiaan. Kisahnya bergerak lambat, dengan penekanan pada dialog dan atmosfer.
Jadwal dan Cara Menonton
Ketujuh film ini punya latar negara dan tahun rilis yang berbeda, dari Jepang, Tiongkok, hingga Australia. Sebagian sudah tersedia di platform streaming internasional, sementara judul-judul lama seperti Death of a Tea Master lebih sering muncul di festival atau pemutaran arsip.
Bagi penonton Indonesia yang menyukai drama bertema budaya, daftar ini bisa jadi pintu masuk mengenal tradisi teh dari berbagai sudut pandang. Mulai dari yang ringan seperti Five Blind Dates, sampai yang berat seperti Ask This of Rikyu.