Pencarian

Keluarga Muslim di Pangkalpinang dan Tantangan Era Digital, Ini 4 Langkah Menata Jalan Menuju Surga

Jumat, 16 Oktober 2026 • 15:01:02 WIB
Keluarga Muslim di Pangkalpinang dan Tantangan Era Digital, Ini 4 Langkah Menata Jalan Menuju Surga
Kepala MIS Tahfizh Khoiru Ummah Pangkalpinang Rokayah menilai keluarga adalah ruang pertama anak mengenal kasih sayang dan tanggung jawab.

PANGKALPINANG — Rokayah, S.E., M.Pd., Kepala MIS Tahfizh Khoiru Ummah Pangkalpinang yang juga mahasiswa S-3 Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, menilai keluarga bukan sekadar tempat pulang. Menurut dia, rumah adalah ruang pertama anak mengenal kasih sayang, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu kelak membentuk cara mereka memandang dunia.

Membangun rumah tangga, lanjutnya, bukan hanya menyatukan dua insan dalam ikatan pernikahan. Ada fondasi lebih besar yang sedang disiapkan, yakni kehidupan masyarakat yang lebih baik. Karena itu, arah dan tujuan sebuah keluarga perlu disepakati sejak awal.

Tekanan Ekonomi hingga Gawai yang Tak Terkendali

Rokayah memetakan sejumlah persoalan yang menggerus kedekatan antaranggota keluarga. Tekanan ekonomi, konflik suami istri, melemahnya komunikasi, dan persoalan pengasuhan disebutnya sebagai pemicu utama. Tambahan lain: penggunaan teknologi digital yang tidak terkendali.

Ia memberi gambaran yang akrab di banyak rumah. Satu keluarga duduk bersama di ruang yang sama, tetapi masing-masing sibuk dengan layar gawai. Orang tua merasa kebutuhan anak sudah terpenuhi lewat pendidikan dan fasilitas. Padahal, anak belum tentu memperoleh perhatian emosional yang mereka butuhkan.

Menurut Rokayah, keutuhan keluarga tidak cukup diukur dari keberadaan satu atap, kecukupan materi, atau pencapaian sosial. Ada pertanyaan lebih mendasar yang perlu dijawab: ke mana keluarga ini hendak diarahkan?

Ketika Suami dan Istri Tak Lagi Sepaham

Salah satu persoalan yang ia soroti adalah hilangnya kesepahaman antara suami dan istri soal tujuan hidup bersama. Perbedaan cara mengelola keuangan, mendidik anak, menjalankan ibadah, dan menghadapi persoalan sehari-hari bisa berkembang menjadi konflik. Penyelesaiannya, kata dia, hanya lewat komunikasi yang sehat.

Tekanan ekonomi memperberat keadaan. Kebutuhan hidup yang meningkat, pendapatan terbatas, dan pola konsumsi yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan ketegangan. Jika disertai sikap saling menyalahkan, rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi sumber tekanan.

Perkembangan teknologi membawa tantangan tersendiri. Media digital membuka akses pengetahuan dan peluang baru. Namun, ia juga menghadirkan risiko kecanduan gawai, paparan konten yang tidak sesuai usia, perbandingan gaya hidup, hingga rusaknya kepercayaan dalam hubungan.

Rokayah menegaskan teknologi bukan satu-satunya penyebab rapuhnya keluarga. Persoalan yang muncul sering kali berkaitan dengan lemahnya komunikasi, kurangnya keteladanan, dan ketidakmampuan menyelesaikan konflik secara dewasa.

Visi Surga dalam Perspektif Islam

Dalam pandangan Islam, keluarga ideal tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan dunia. Ada orientasi lebih jauh, yakni rida Allah SWT dan keselamatan akhirat. Rokayah merujuk QS. At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan orang beriman menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.

Pesan itu menegaskan bahwa keluarga mengandung amanah yang tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik. Orang tua bertanggung jawab membimbing anak mengenal Allah, membiasakan ibadah, menanamkan akhlak, dan mengajarkan nilai kebaikan. Tanggung jawab itu tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, lembaga pendidikan agama, atau lingkungan masyarakat.

Keluarga bervisi surga, tulis Rokayah, menempatkan kehidupan dunia sebagai kesempatan berbuat baik dan mempersiapkan kehidupan akhirat. Pekerjaan dijalankan dengan kejujuran, pendidikan ditempuh dengan kesungguhan, dan hubungan keluarga dirawat dengan kasih sayang serta tanggung jawab.

Ia mengaitkannya dengan QS. Ar-Rum ayat 21 yang menjelaskan tujuan pernikahan melalui hadirnya sakinah, mawaddah, dan rahmah: ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Ketiganya bukan hadiah otomatis setelah pernikahan. Ketenangan butuh rasa aman dan kepercayaan. Cinta butuh perhatian dan penghargaan. Kasih sayang menuntut kesediaan memahami, memaafkan, dan saling membantu.

Empat Langkah Menata Jalan Menuju Surga

Rokayah menawarkan sejumlah langkah agar visi keluarga surga tidak berhenti sebagai wacana. Pertama, membangun kebiasaan ibadah bersama. Salat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, berdoa, dan saling mengingatkan dalam kebaikan bisa menjadi rutinitas rumah tangga.

Keteladanan orang tua tetap unsur penting. Nasihat akan kehilangan makna apabila bertentangan dengan perilaku sehari-hari.

Kedua, menghidupkan kembali komunikasi. Waktu bersama hendaknya tidak selalu dihabiskan dengan gawai atau percakapan soal kewajiban. Anak perlu didengarkan, bukan sekadar dinasihati.

Rokayah menutup dengan catatan bahwa keluarga bervisi surga bukanlah keluarga yang bebas dari masalah. Ia adalah keluarga yang berusaha menghadapi masalah tanpa kehilangan nilai, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat setiap anggotanya.

Follow suarababel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: suarabangka.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks