Jodoh Politik: Minggat atau Berpaling

Nasional54 Dilihat

KATA minggat terkadang digunakan di dalam diskusi publik terkait kegagalan perjodohan politik Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam Pilpres 2024.

Deklarasi Anies dengan Muhaimin Iskandar memupus harapan perjodohan politik Anies dengan AHY.

Kekecewaan memancing pihak AHY untuk mengeluarkan kata-kata yang memilki nuansa pathos (emosi) seperti minggat dan pengkhianat.

Di dalam KBBI daring, minggat didefinisikan “melarikan diri; pergi tanpa minta izin (berpamitan)”. Ini adalah tindakan yang dilakukan diam-diam dengan tujuan melepaskan diri dari tanggung jawab.

Jika dilihat dari konteks politik akhir-akhir ini, kata minggat dilemparkan ke publik untuk menunjukkan tindakan meninggalkan kawan setia secara tidak etis sekaligus tindakan pengkhianatan.

Surat pribadi Anies kepada AHY dipertontonkan oleh pihak AHY untuk menuding Anies melakukan pengkhianatan.

Kata minggat adalah serapan dari Bahasa Jawa yang artinya kabur. Di dalam Bahasa Jawa, minggat adalah kata yang sangat kasar dan konotasinya negatif. Orang yang minggat adalah orang yang tidak bertanggung jawab.

Biasanya kata ini diucapkan dengan nada dan intonasi tinggi karena ada luapan emosi. Jika diucapkan sebagai kalimat perintah, maka minggat memiliki kadar kekasaran yang setara dengan “go to hell”.

Pihak Anies membantah tudugan pengkhianatan. Komunikasi politik sudah dicoba dibangun dengan pihak AHY menjelang deklarasi pasangan Anies dan Muhaimin.

Menurut versi pihak Anies, ini adalah sikap etis yang coba diusahakan. Hanya saja, sikap etis ini terhalang oleh proses komunikasi yang tidak lancar.

Dengan kronologinya seperti ini, barangkali istilah berpaling mungkin lebit tepat. Istilah berpaling relatif lebih netral meskipun tetap memiliki nuansa dramatis.

Bagaimanpun juga gagalnya perjodohan adalah peristiwa dramatis. Selain itu, diksi pihak Anies cenderung menghindari kata-kata yang berbau pathos seperti “tidak boleh baper dalam politik”, “menghormati pilihan Anies Baswedan yang telah diberi mandat oleh parta koalisi untuk memilih cawapres”, dan “mengedepankan kalkulasi rasional dalam memilih cawapres”.

Dari diksi-diksi tersebut ada kesan sugesti sifat elegan di dalam pengambilan keputusan yang tidak mudah.

Jodoh politik ibarat perkawinan, tetapi out of the box. Jika jodoh rumah tangga diawali terlebih dahulu dengan rasa sayang, maka sang calon akan dipinang.

Jodoh politik kadang-kadang terbalik alias dipinang terlebih dahulu, baru kemudian disayang.

Sudah terlanjur sayang, ternyata tidak jadi dipinang. Marahlah sang calon yang ditinggalkan dan keluarlah kata-kata bernada pathos seperti minggat dan pengkhianat.

Orang yang kecewa akan cederung memilih diksi berbau pathos yang cencerung menyudutkan pihak tertentu.

Pihak yang disudutkan akan mengadapi dengan diksi yang bernuansa logos (kalkulasi rasional) untuk memframing irasionalitas atau kebaperan pihak yang menyudutkan.

Diksi para politikus memang mengandung muatan retoris. Pilihan kata memiliki tujuan persuasi. Terkadang, bahasanya ambivalen dan terkadang sangat vulgar.

Kata minggat adalah kata vulgar retoris dan implikasinya adalah membuka aib pihak tertentu. Kata-kata yang bernuansa pathos cenderung menyangatkan.

Jika digunakan untuk memuji, maka pathos terkesan meninggikan setinggi-tingginya. Sebaliknya jika digunakan untuk tujuan mengkritik, maka pathos terkesan merendahkan serendah-rendahnya.

Bahwa perjodohan antara Anies dan AHY akan gagal bukanlah rahasia A1. Banyak pengamat sudah memperkiran hal tersebut jauh hari.

Keengganan pihak Nasdem untuk mengusung AHY sudah tercium oleh banyak pengamat politik. Sosok AHY dinilai tidak mendatangkan keuntungan elektoral bagi Anies.

Hanya saja, pihak Nasdem berdalih dengan kata-kata “masih mempertimbangakan calon yang tepat” atau “menunggu saat yang tepat untuk mengumumkan”.

Pihak Demokrat di dalam diskusi publik juga seringkali memberikan jawaban yang ambigu ketika dihadapkan pada pertanyaan “Apakah akan tetap berada di dalam koalisi seandainya AHY tidak terpilih menjadi kandidat wapres?”.

Keributan antara pihak Anies dan AHY setelah perjodohan gagal tidak lain adalah vulgarisasi ketidaksepakatan yang selama ini selalu berusaha ditutup-tutupi dan dibalut dengan bahasa ambigu.

Apakah ini cerita minggat atau berpaling? Silahkan, publik memberikan penilaian sendiri!

[KOMPAS]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *