Mempertanyakan Keefektifan Puluhan ‘Water Mist’ yang Sudah Terpasang di Ibu Kota…

Nasional31 Dilihat

JAKARTA, – Sebanyak 18 gedung di Jakarta sudah memasang puluhan water mist generator yang dipercaya mampu mengendalikan polusi udara yang sudah menahun di Ibu Kota.

Berdasarkan keterangan Satgas Pengendalian Pencemaran Udara DKI Jakarta Ani Ruspitawati, sebanyak 7 gedung di antaranya adalah kantor pemerintah daerah dan 11 lainnya merupakan gedung milik swasta.

Salah satu gedung swasta tersebut adalah Apartemen Kalibata City di Pancoran, Jakarta Selatan.

Kompas.com melihat langsung bagaimana alat itu bekerja pada Senin (18/9/2023).

Berdasarkan pantauan, water mist generator yang berbentuk tabung berwarna oranye ditempatkan di lantai paling atas gedung.

Benda tersebut menyedot air dari tandon dan kemudian menyemprotkannya ke udara dengan kipas pendorong.

Butir-butir air halus keluar dari dua nozzle yang terpasang di ujung tabung dan menghasilkan efek seperti air hujan.

Water mist ini dioperasikan dua kali dalam satu hari, mulai pukul 09.00-11.00 WIB dan juga 13.00-15.00 WIB setiap harinya.

Total, ada sekitar 3.240 liter air yang disemprotkan per hari dari 18 water mist generator yang terpasang di seluruh tower Apartemen Kalibata City.

Apakah efektif?

Saat Kompas.com memantau pengoperasian water mist generator di Apartemen Kalibata City pada Senin siang kemarin, kualitas udara di Pancoran tidak terlalu baik.

Dikutip dari laman pengukuran kualitas udara IQAir, indeks kualitas udara di wilayah Pancoran tercatat di angka 153.

Setelah 18 water mist generator dioperasikan selama dua jam, kualitas udara di sekitar Pancoran sedikit membaik, tetapi tak berubah drastis.

Berdasarkan data IQAir, indeks kualitas udara di wilayah Pancoran tercatat berada di angka 145.

Manajer Kampanye Infrastruktur dan Tata Ruang Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Dwi Sawung sebelumnya mengatakan bahwa alat tersebut tidak efektif menangkal polusi udara yang sudah menahun.

Diperlukan langkah yang lebih besar untuk menyelesaikan masalah sampai ke akarnya, seperti pembatasan alat transportasi yang menghasilkan emisi, penghentian industri yang jelas mencemari udara, dan sebagainya.

“Saya menilai ini tidak efektif untuk polusi udara seburuk ini, karena hanya akan buang-buang air dan energi listrik. Dampaknya juga kecil terhadap kualitas udara, karena sumber masalah utama pencemarnya belum teratasi,” ujar Dwi, Rabu (13/9/2023) dilansir dari rri.co.id.

Dwi terus menghimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat sedang beraktivitas di luar ruangan.

Pemasangan penyaring udara juga dinilai efektif untuk meningkatkan kualitas udara di dalam ruangan.

Selain itu, penanaman pohon di lingkungan sekitar juga penting untuk dilakukan demi menyerap polusi udara yang ada.

(Penulis: Tria Sutrisna, Dzaky Nurcahyo/ Editor: Jessi Carina, Nursita Sari, Ihsanuddin)

[KOMPAS]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *