Pakar BRIN Paparkan Tahap Akhir Pembangunan Observatorium Timau

Berita, Nasional13 Views

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin mengungkap tahap akhir pembangunan Observatorium Timau, Nusa Tenggara Timur.

“Gedung teleskop diselesaikan pekan ini. Kemudian, teleskop segera dipasang. Tenaga ahli Jepang sudah hadir untuk memasang teleskop. Diperkirakan 1-2 bulan selesai,” kata dia lewat pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Kamis (8/6).

Observatorium Timau dibangun di kawasan hutan lindung lereng Gunung Timau pada ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut. Teleskop yang digunakan di Observatorium tersebut berasal dari Jepang dan kembaran dari Teleskop Seimei milik Universitas Kyoto, Jepang.

Kawasan observatorium nasional (obnas) ini berdekatan dengan Desa Bitobe yang masuk dalam Kecamatan Amfoang Tengah.

Selain itu juga ada Desa Honuk dan Desa Faumes yang berada di wilayah Kecamatan Amfoang Barat Laut dialokasikan untuk pembangunan Observatorium Nasional Timau.

Thomas mengatakan jalan dari Kupang ke Timau yang sebelumnya rusak pun telah diperbaiki.

“Jalan sudah lebih baik. Kupang – Timau hanya sekitar 3 jam. Beberapa ruas yang longsor sedang diperbaiki,” kata dia, yang merupakan Profesor Riset Astronomi-Astrofisika di Pusat Riset Antariksa BRIN itu.

Mengutip unggahan instagram Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN, Observatorium Timau disebut memiliki keunggulan dalam pengamatan langit belahan Bumi bagian utara dan selatan “karena terletak di daerah khatulistiwa.”

Dari segi bangunan, Observatorium Timau memiliki kesamaan dengan bangunan Observatorium Bosscha di Bandung. “Bedanya, teleskop yang digunakan akan lebih besar dengan diameter 3,8 meter,” tulis ORPA BRIN.

View this post on Instagram

A post shared by Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN (@lapan_ri)

Terkait teleskop, beberapa komponen seperti teropong dan frame penggerak sudah sampai di Timau. Pengangkutan perangkat itu dilakukan menggunakan beberapa truk kontainer.

Para teknisi dari Jepang pun didatangkan untuk merakit dan mengkalibrasi teleskop tersebut.

Sebelum dibangun, telah dilakukan studi selama 5 tahun fraksi malam terhadap langit di Indonesia. Hasilnya, wilayah Kupang memiliki langit cerah paling banyak dalam setahun dibanding tempat-tempat lain di Indonesia.

Kepala Balai Observatorium Nasional Kupang Bambang Suhandi mengatakan pertimbangan itu diambil usai dilakukan studi. Hasilnya, wilayah Timau masih minim polusi cahaya sehingga optimal untuk pengamatan astronomi.

“Kawasan Gunung Timau masih minim polusi cahaya, sehingga langitnya baik untuk pengamatan astronomi,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com pada 2020.

(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *