Era 1990-an adalah masa kelam bagi siapa pun yang perlu memindahkan data lebih dari satu megabyte. Disket 3,5 inci hanya mampu menampung 1,44 MB—cukup untuk dokumen teks, tapi penderitaan dimulai saat Anda harus membawa file presentasi PowerPoint berisi grafik atau koleksi lagu MP3. Solusi saat itu: membagi file ke dalam belasan disket, memberi label satu per satu, dan berdoa agar tidak ada yang korup.
Iomega melihat celah ini. Pada 1994, perusahaan asal Utah, Amerika Serikat, meluncurkan Zip Drive—perangkat penyimpanan yang menggunakan kartrid khusus seukuran disket namun mampu menampung 100 MB data. Angka itu 70 kali lipat kapasitas disket standar. Kecepatan transfernya pun jauh lebih tinggi, membuat proses salin file tidak lagi terasa seperti menunggu cat kering.
Zip Drive bukan barang murah. Saat diluncurkan, harga drive-nya sekitar $199 (Rp 3,2 juta dengan kurs saat itu) dan setiap kartrid $19,95 (Rp 320 ribu). Namun bagi pengguna yang setiap hari bergelut dengan file CAD, desain grafis, atau database, investasi itu terasa sepadan. Di Indonesia, perangkat ini menjadi incaran kantor arsitektur, biro iklan, dan laboratorium komputer universitas yang muak dengan tumpukan disket.
Popularitas Zip Drive meroket. Iomega sempat menjadi salah satu nama paling bergengsi di industri penyimpanan data, setara dengan Western Digital atau Seagate di masanya. Kapasitas kartrid terus berkembang: dari 100 MB menjadi 250 MB pada 1999, lalu 750 MB pada 2002. Sayangnya, momentum itu tidak bertahan lama.
Pada tahun 2000, IBM memperkenalkan DiskOnKey—USB flash drive pertama dengan kapasitas 8 MB. Perangkat ini kecil, ringan, tidak membutuhkan kabel daya eksternal, dan yang terpenting: kompatibel dengan port USB yang mulai menjadi standar di setiap komputer. Tidak seperti Zip Drive yang memerlukan pembaca khusus, USB flash drive bisa dicolokkan ke PC mana pun tanpa driver atau kartrid mahal.
Dalam beberapa tahun, kapasitas USB flash drive melesat melewati Zip Drive. Harganya terus turun drastis. Pada 2003, pengguna bisa mendapatkan drive 256 MB dengan harga di bawah $50. Iomega berusaha bertahan dengan merilis versi Zip Drive yang kompatibel dengan USB, tapi lanskap sudah berubah. Konsumen tidak lagi mau direpotkan dengan kartrid proprietary yang hanya bisa diputar di perangkat Iomega.
Produksi Zip Drive resmi dihentikan pada 2003. Iomega kemudian beralih ke produk hard drive eksternal dan media penyimpanan optik, lalu diakuisisi oleh EMC pada 2008. Nama Zip Drive perlahan memudar dari ingatan publik, digantikan oleh USB flash drive dan kemudian layanan cloud yang membuat transfer file semakin tanpa hambatan.
Meski kalah, Zip Drive meninggalkan pelajaran penting tentang inovasi di tengah keterbatasan. Di saat kapasitas disket terasa seperti tembok beton, Iomega berani menawarkan lompatan 70 kali lipat. Mereka gagal bukan karena produknya buruk, melainkan karena standar universal seperti USB terbukti lebih kuat daripada solusi eksklusif. Hari ini, ketika Anda mencolokkan flash drive 64 GB seharga Rp 100 ribu ke laptop, ingatlah bahwa ada masa ketika 100 MB terasa seperti kemewahan yang harus diperjuangkan.