BANGKA — Suasana santai di Warkop Alan, Jumat pagi (17/7), berubah menjadi forum diskusi strategis. Plt Sekda Kabupaten Bangka, Asep, duduk satu meja dengan tokoh Islam, komunitas gereja, pemuda, Hindu, hingga Konghucu. Bukan sekadar ngopi, pertemuan yang digagas FKUB ini menjadi ajang menyatukan visi pembangunan daerah.
Salah satu poin utama yang disorot Asep adalah perayaan HUT Kemerdekaan RI. Ia mengaku resah karena tahun sebelumnya tidak ada pawai rakyat. “Tahun ini saya gagaskan karnaval atau pawai pesta rakyat harus ada. Karena tahun kemarin ternyata tidak ada pesta masyarakatnya, tidak ada pawai,” ujarnya di hadapan puluhan peserta.
Ia mempersilakan FKUB dan elemen lintas agama untuk berkreasi dan turun ke jalan. Ajakan ini sekaligus menjadi simbol bahwa harmoni tidak hanya diam di tempat ibadah, tapi juga dirayakan di ruang publik.
Plt Sekda juga mengungkapkan rencana penataan dua kawasan strategis melalui Peraturan Bupati. Pertama, kawasan Pecinan Harmoni sebagai pusat penggerak ekonomi masyarakat. Kedua, kawasan Melayu yang akan dilengkapi dengan fasilitas pengobatan tradisional dan modern.
“Kita hadir lintas terutama agama beragam di kita. Ini luar biasa pagi ini. Ayo kita jalan-jalan ukhuwah, ikatan harmoni 5 tahun yang saya kenal,” kata Asep, menekankan bahwa harmoni butuh aksi nyata, bukan sekadar saling tidak mengganggu.
Di sela diskusi, Asep menyoroti persoalan ekonomi yang membelit warga, mulai dari panjangnya antrean di SPBU hingga aktivitas PT GML. Ia secara khusus menyinggung masalah IUP tambang timah di kawasan Jelitik yang belum jelas penyelesaiannya.
Ia juga mengungkapkan kekecewaan terhadap proyek minapolitan di kawasan pelabuhan. Lahan puluhan hektar yang sudah diserahkan ke Kementerian Kelautan tak kunjung berkembang. “Bayangkan kita yang menyerahkan lahannya, aset pelabuhannya masih punya kita, tapi sekarang kita yang minjam dan sewa ke mereka,” ujarnya.
Tak hanya itu, Asep menyebut rencana pembongkaran Pasar KITE pada 2027 untuk diubah menjadi konsep modern. Sementara itu, ada wacana area pelabuhan masuk dalam proyek penambangan besar, namun masih sebatas konsep dan menunggu kepastian dari pusat.
Pertemuan yang dikemas dalam format ngopi santai ini dinilai efektif untuk menjembatani komunikasi antara pemda dan tokoh masyarakat. “Ikatan harmoni ini sudah saya kenal selama 5 tahun. Harus terus dijaga,” pungkas Asep.