JAKARTA — Indonesia dan Thailand sepakat meningkatkan kerja sama di sektor ketahanan pangan. Kesepakatan itu tertuang dalam pertemuan antara Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dengan jajaran pemerintah Indonesia di Jakarta, Senin (3/8).
Kerja sama ini menyasar penguatan cadangan pangan nasional, sebuah langkah yang dinilai krusial di tengah ancaman perubahan iklim dan gejolak harga komoditas dunia.
Inti dari kerja sama ini adalah memastikan pasokan pangan pokok tetap tersedia dengan harga yang terkendali di pasar domestik. Thailand, sebagai salah satu lumbung pangan dunia, memiliki keunggulan dalam hal produktivitas dan teknologi pertanian.
Melalui kemitraan ini, Indonesia dapat mengamankan akses impor yang lebih stabil untuk komoditas tertentu saat produksi dalam negeri mengalami gangguan. Di sisi lain, Thailand mendapatkan kepastian pasar untuk produk pertaniannya.
Ketergantungan pada rantai pasok global membuat Indonesia rentan terhadap gejolak eksternal. Gagal panen akibat El Nino atau konflik geopolitik yang memicu larangan ekspor, misalnya, bisa langsung berdampak pada lonjakan harga di dalam negeri.
Dengan memiliki perjanjian bilateral yang kuat, pemerintah memiliki instrumen untuk mengintervensi pasar saat dibutuhkan. Ini bukan sekadar soal impor, melainkan tentang membangun ketahanan jangka panjang.
Kunjungan Perdana Menteri Anutin Charnvirakul ke Jakarta menjadi momentum penting bagi kedua negara untuk memperbarui komitmen di bidang pangan. Pertemuan tingkat tinggi ini menunjukkan bahwa isu pangan telah menjadi prioritas utama dalam hubungan bilateral.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia untuk terus memperkuat kedaulatan pangan tanpa mengabaikan peluang kolaborasi internasional. Kerja sama teknis dan perdagangan diharapkan segera ditindaklanjuti oleh kementerian terkait di kedua negara.