Pencarian

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Sebut Impor dan Yield UST Jadi Pemicu

Selasa, 29 September 2026 • 12:37:01 WIB
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Sebut Impor dan Yield UST Jadi Pemicu
Nilai tukar rupiah menembus Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan pagi.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Nilai tukar rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan pagi, dipicu kenaikan harga minyak di atas US$ 108 per barel dan yield obligasi AS tenor 10 tahun yang kembali ke 5,23%. Bank Indonesia menyebut kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III turut memperbesar tekanan, meski pelemahan rupiah secara quarter-to-date masih terbatas 0,67%.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, memaparkan bahwa pelemahan rupiah terjadi di tengah berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal. Harga minyak yang bertahan di atas US$ 108 per barel memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut.

Belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang menahan harga minyak di level tinggi. Kondisi itu berdampak langsung pada negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

Yield UST 10 Tahun Cetak Level Tertinggi Sejak 2007

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kembali naik ke level 5,23%, posisi tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield obligasi AS membuat arus dana keluar dari portofolio aset negara emerging markets, termasuk Indonesia.

Erwin menyatakan tekanan nilai tukar juga datang dari sisi domestik. Kebutuhan valuta asing importir menjelang akhir triwulan III menambah permintaan dolar AS di pasar.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," ujar Erwin dalam keterangan resminya, Selasa (29/9/2026).

Cadangan Devisa Naik ke US$ 146,5 Miliar

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat ke level US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Posisi ini memberi ruang bagi bank sentral untuk melakukan stabilisasi di pasar valas.

Bank Indonesia menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan regional. Pelemahan secara quarter-to-date tercatat terbatas 0,67%, lebih baik dibandingkan beberapa mata uang negara tetangga.

Strategi Stabilisasi: Intervensi NDF, Spot, dan DNDF

BI menyatakan akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

Penguatan strategi operasi moneter pro-market juga ditempuh dengan mengelola struktur suku bunga di pasar uang. BI meningkatkan insentif untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward Lindung Nilai dalam rangka pendanaan luar negeri.

Langkah tersebut bertujuan menjaga kecukupan likuiditas sekaligus memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar. Erwin menegaskan intervensi akan dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan.

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," kata Erwin.

Dampak ke Pelaku Usaha dan Investor

Bagi importir, pelemahan rupiah menambah biaya perolehan bahan baku dan barang modal. Perusahaan dengan utang berbentuk dolar AS juga menghadapi kenaikan beban bunga dan pokok yang harus dibayar.

Investor asing yang memegang obligasi negara berpotensi menyesuaikan posisi jika selisih yield SBN dengan UST terus menyempit. Sebaliknya, eksportir komoditas mendapat keuntungan dari penerimaan dolar yang dikonversi ke rupiah.

Pergerakan rupiah dalam beberapa sesi ke depan akan bergantung pada arah harga minyak, perkembangan yield UST, dan realisasi arus modal asing di pasar SBN. Pasar menantikan sinyal lanjutan dari Federal Reserve terkait arah suku bunga acuan mereka.

Follow suarababel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks