Menteri Wihaji Tinjau Keluarga Berisiko Stunting di Bangka Tengah, Buruh Tambang Lumpuh Dapat Rujukan RS dan Bantuan Rp 5 Juta

Penulis: Jonatan Nasution  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:12:31 WIB
Menteri Wihaji meninjau kondisi keluarga Asri, buruh tambang lumpuh yang memiliki bayi berusia tujuh bulan, di Bangka Tengah.

PANGKAL PINANG — Perhatian khusus dalam kunjungan kerja Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, di Bangka Tengah tertuju pada keluarga Asri. Asri, seorang buruh tambang lepas, mengalami kelumpuhan pada bagian panggul akibat kecelakaan kerja sehingga tidak bisa lagi bekerja. Kondisi itu membuat kebutuhan keluarganya sehari-hari bergantung pada penghasilan sang istri yang bekerja sebagai petugas kebersihan dengan upah sekitar Rp 50 ribu per hari.

Bayi 7 Bulan Terpaksa Diasuh Ayah yang Lumpuh

Di sela pekerjaannya, istri Asri harus merawat suami dan bayi mereka yang baru berusia tujuh bulan. Saat sang ibu bekerja, bayi tersebut diasuh oleh Asri yang memiliki keterbatasan mobilitas, sehingga lebih banyak berada di dalam ayunan hingga ibunya kembali ke rumah sekitar pukul 12.00 WIB.

Wihaji menilai kondisi ini menjadi contoh nyata bahwa persoalan stunting tidak bisa diselesaikan hanya melalui pemberian makanan tambahan kepada anak. Intervensi lintas sektor diperlukan untuk menyasar berbagai faktor penyebab, mulai dari kesehatan orang tua, kecukupan gizi, kondisi ekonomi keluarga, kualitas pengasuhan, hingga kelayakan hunian.

Gubernur Langsung Respons, Asri Dirujuk ke RS Provinsi

Melihat kondisi kesehatan Asri, Wihaji langsung berkoordinasi dengan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Dr. (H.C.) Hidayat Arsani, S.E., agar segera dilakukan pemeriksaan dan penanganan medis. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pun menyiapkan proses rujukan Asri ke Rumah Sakit Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

"Gubernur tadi langsung merespons dan akan merujuk bapaknya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan cepat. Negara harus hadir," tegas Wihaji dalam keterangan tertulisnya, Kamis (6/8/2026).

Bantuan Biaya Hidup Rp 5 Juta dan Rumah Layak Huni

Selama menjalani pemeriksaan dan perawatan, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN akan memberikan bantuan biaya hidup sebesar Rp 5 juta untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama tiga bulan. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban keluarga sehingga istri Asri dapat mendampingi proses pengobatan suaminya, sementara pengasuhan bayi dibantu oleh keluarga terdekat.

Selain keluarga Asri, Wihaji juga meninjau keluarga Asmid. Untuk keluarga ini, pemerintah akan memberikan dukungan pemenuhan kebutuhan dasar sekaligus memastikan keberlanjutan pendidikan anak. Salah satu bantuan yang disiapkan berupa sepeda serta pendampingan agar anak dalam keluarga tersebut dapat terus menempuh pendidikan hingga jenjang sekolah menengah atas.

Kedua keluarga tersebut direncanakan menerima bantuan pembangunan rumah layak huni senilai Rp 50 juta melalui kolaborasi pemerintah daerah, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), serta berbagai mitra terkait.

Perintah Langsung Presiden untuk Pendampingan Menyeluruh

"Target kami adalah memastikan keluarga berisiko stunting benar-benar mendapatkan pendampingan. Ini perintah langsung Bapak Presiden agar keluarga yang membutuhkan segera kita bantu," ujar Wihaji.

Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pemerintah kabupaten, lembaga sosial, dan berbagai mitra pembangunan, diharapkan keluarga berisiko stunting memperoleh akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan, hunian layak, pendidikan, pengasuhan, serta dukungan ekonomi yang berkelanjutan. Pendampingan akan terus dilakukan agar bantuan yang diberikan tidak hanya menyelesaikan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga mampu meningkatkan ketahanan dan kemandirian keluarga dalam jangka panjang.

Reporter: Jonatan Nasution
Sumber: news.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top