KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Alih-alih mengikuti rapat internal di ibu kota, Andi Amran memilih turun ke lapangan. Sikap ini diambilnya setelah menerima masukan terkait penolakan mahasiswa terhadap proyek lumbung pangan nasional yang tengah digarap di Alor.
“Saya tidak bisa hanya mendengar laporan dari Jakarta. Saya harus melihat langsung dan bertemu dengan mahasiswa serta petani di lapangan,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Republika.co.id, Jakarta.
Dalam kunjungannya, Mentan dijadwalkan meninjau titik lokasi pengembangan food estate yang menjadi sumber perdebatan. Ia juga berencana menggelar pertemuan tertutup dengan perwakilan mahasiswa dan petani setempat untuk menggali akar persoalan.
Pembatalan rapat pimpinan secara mendadak ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Kementerian Pertanian tidak ingin mengambil keputusan sepihak. Langkah ini juga menjadi uji nyata komitmen pemerintah dalam menyelesaikan konflik agraria yang kerap memicu gejolak sosial di daerah.
Food estate di Alor merupakan bagian dari proyek strategis nasional untuk memperkuat ketahanan pangan. Namun, di lapangan, program ini kerap berbenturan dengan kepentingan lahan masyarakat adat dan kekhawatiran dampak lingkungan.
Mahasiswa Alor sebelumnya menyuarakan penolakan karena menilai proyek tersebut belum melalui kajian komprehensif dan minim transparansi. Mereka khawatir pembukaan lahan skala besar justru merusak ekosistem lokal dan mengancam mata pencaharian warga.
Dengan turun langsung, Andi Amran diharapkan mampu menjembatani komunikasi yang sempat tegang antara pemerintah pusat dan warga. Hasil pertemuan di Alor nantinya akan menjadi bahan evaluasi bagi kelanjutan proyek food estate di daerah tersebut.
Keputusan membatalkan agenda resmi untuk merespons dinamika masyarakat ini menjadi catatan penting gaya kepemimpinan Amran yang dikenal responsif. Publik kini menanti tindak lanjut konkret dari kunjungan tersebut, terutama terkait nasib program dan jaminan hak-hak warga lokal.