Lomba Bertutur SD/MI di Bangka Tengah Jadi Ajang Tumbuhkan Budaya Baca dan Lestarikan Cerita Lokal

Penulis: Alfian Batubara  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:48:31 WIB
Puluhan siswa SD/MI mengikuti Lomba Bertutur tingkat Kabupaten Bangka Tengah di Koba, Selasa (…).

KOBA — Puluhan siswa sekolah dasar di Bangka Tengah unjuk kebolehan membawakan cerita dalam Lomba Bertutur tingkat SD/MI se-Kabupaten Bangka Tengah. Ajang yang digelar di Koba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan bagian dari strategi pemerintah daerah menumbuhkan minat baca dan melestarikan kekayaan budaya lokal.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Bangka Tengah, Yardiansyah, menyebut lomba ini menjadi sarana untuk melatih kemampuan komunikasi anak sejak usia dini. Proses bertutur yang baik, menurut dia, tidak lepas dari kebiasaan membaca, memahami, dan menghayati isi cerita yang dibawakan.

"Melalui lomba bertutur, kita tumbuhkan budaya baca, lestarikan budaya daerah dan perkokoh semangat cinta tanah air," kata Yardiansyah di Koba, Selasa.

Proses Pendidikan di Balik Panggung Cerita

Ali Imron, Asisten Administrasi dan Umum Setda Bangka Tengah, menegaskan bahwa kompetisi ini memiliki nilai lebih dari sekadar penentuan juara. Ia melihat ada proses pendidikan besar yang berlangsung ketika anak menyiapkan diri sebelum tampil.

"Lomba bertutur bukan hanya sebuah kompetisi untuk menentukan siapa yang paling baik dalam menyampaikan sebuah cerita. Di balik kegiatan ini terdapat proses pendidikan yang sangat besar," ujar Ali saat membuka acara.

Menurut Ali, saat anak membaca cerita, mereka belajar mengenal sejarah dan pengetahuan. Ketika memahami isi cerita, anak belajar berpikir dan mengambil nilai kehidupan. Sementara itu, saat tampil di depan audiens, anak belajar membangun keberanian dan kepercayaan diri.

"Ketika seorang anak membawakan cerita tentang budaya, sejarah, tokoh, tradisi atau kearifan lokal, maka mereka sedang belajar mengenal jati dirinya sendiri," katanya.

Menghidupkan Perpustakaan di Tengah Derasnya Informasi

Yardiansyah mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang diterapkan di rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Ia menilai penguatan budaya baca semakin krusial di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi.

Membaca, lanjut Ali, sama halnya dengan mengajarkan anak untuk berkonsentrasi, memahami, menganalisis, membayangkan, dan menemukan makna dari setiap informasi yang diterima. Karena itu, peran perpustakaan dinilai perlu diperluas.

"Perpustakaan harus kita hidupkan sebagai pusat pembelajaran masyarakat, ruang kreativitas anak, dan tempat tumbuhnya gagasan," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan. Dengan begitu, minat baca anak-anak tidak hanya tumbuh karena tuntutan lomba, tetapi menjadi kebiasaan yang melekat hingga mereka dewasa.

Reporter: Alfian Batubara
Sumber: babel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top