BANGKA BELITUNG — Aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia kembali mencatatkan rekor pertumbuhan di tengah gejolak pasar global. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto nasional mencapai Rp 28,58 triliun pada Juni 2026, melonjak signifikan dibandingkan posisi Mei 2026 yang sebesar Rp 23,01 triliun.
Peningkatan ini terjadi saat harga Bitcoin justru mengalami koreksi dalam. Bitcoin Monthly Report mencatat harga Bitcoin turun 17,9% sepanjang Juni, dari sekitar US$ 71.440 di awal periode menjadi US$ 58.646 pada akhir bulan.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kondisi pasar yang dinamis justru menjadi pemicu utama meningkatnya frekuensi jual-beli. Menurutnya, investor cenderung lebih aktif menyesuaikan posisi ketika harga bergerak fluktuatif, baik untuk merespons peluang kenaikan maupun mengelola risiko saat harga tertekan.
"Kenaikan transaksi kripto hingga Rp 28,58 triliun menunjukkan bahwa aktivitas pasar aset digital di Indonesia semakin tinggi. Jika melihat pergerakan Bitcoin sepanjang Juni yang cukup volatil, kondisi tersebut juga dapat mendorong investor untuk lebih aktif melakukan penyesuaian posisi dan memanfaatkan pergerakan pasar," kata Yudho.
Ia menambahkan bahwa minat terhadap aset digital tetap kuat, bahkan di tengah kondisi pasar yang sedang tidak stabil sekalipun.
Selain didorong oleh volatilitas, pertumbuhan transaksi juga seiring dengan bertambahnya jumlah akun konsumen aset keuangan digital. Hingga Juni 2026, total akun tercatat mencapai 22,69 juta, meningkat 1,32% secara bulanan dari 22,40 juta akun pada Mei 2026.
Data ini mengindikasikan bahwa basis pengguna kripto di Indonesia terus meluas. Meski demikian, Yudhono mengingatkan bahwa pertumbuhan jumlah akun harus diimbangi dengan edukasi yang memadai agar masyarakat memahami risiko volatilitas pasar.
"Pertumbuhan aktivitas transaksi perlu diimbangi dengan semakin mudahnya akses terhadap layanan aset digital, sekaligus edukasi yang memadai agar masyarakat dapat memahami risiko volatilitas pasar," ujarnya.
Lonjakan nilai transaksi pada Juni tidak hanya mencerminkan bertambahnya jumlah pengguna, tetapi juga tingginya aktivitas investor dalam menghadapi dinamika pasar. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan aset kripto yang patut diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara.
Dengan regulasi yang kini berada di bawah pengawasan OJK, industri diharapkan dapat berkembang lebih sehat dan terukur. Para pelaku pasar pun direkomendasikan untuk terus memantau pergerakan harga global serta mengelola portofolio secara bijak di tengah ketidakpastian ekonomi makro.