KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Fenomena ini bukan tanpa dasar. Data dari Carfax mencatat bahwa mobil baru kehilangan lebih dari 10 persen nilainya hanya dalam bulan pertama. Kelley Blue Book bahkan mencatat angka yang lebih ekstrem: di tahun pertama, penyusutan nilai mobil baru bisa mencapai 20 persen atau lebih. Artinya, mobil yang baru keluar dari dealer langsung "meleleh" nilainya seperti es krim di siang hari.
Angka ini menjadi pertimbangan serius bagi konsumen Indonesia. Survei dari LPEM FEB UI pada 2026 melibatkan 1.511 responden yang semuanya berencana membeli mobil dalam lima tahun ke depan. Hasilnya, 962 orang di antaranya—hampir dua pertiga—menyatakan pilihannya jatuh pada mobil bekas.
Keputusan ini lebih dari sekadar mencari harga yang lebih terjangkau. Membeli mobil bekas berarti melewati kurva depresiasi paling curam. Pembeli pertama menanggung beban penyusutan terbesar, sementara pembeli kedua mendapatkan nilai yang lebih stabil dan siap pakai tanpa "hukuman" finansial yang sama beratnya.
Menariknya, peneliti LPEM FEB UI juga mensimulasikan skenario untuk menguji seberapa kuat preferensi ini. Mereka mencoba menghitung bagaimana respons pasar jika harga mobil baru turun hingga 10 persen. Hasilnya, penurunan harga tersebut tidak cukup kuat untuk membuat responden berpindah hati dari mobil bekas ke mobil baru.
Ini menunjukkan bahwa persepsi nilai dan kerugian finansial telah mengakar kuat dalam keputusan pembelian. Sekadar potongan harga kecil tidak mampu mengompensasi potensi kerugian besar dari depresiasi yang sudah diperhitungkan dengan matang oleh calon pembeli.
Meski secara finansial lebih masuk akal, membeli mobil bekas tetap memiliki risiko yang harus dikelola. Riwayat perawatan kendaraan, kondisi mesin, dan keaslian odometer adalah faktor-faktor yang wajib dicek secara menyeluruh. Berbeda dengan mobil baru yang memiliki garansi pabrik, pembeli mobil bekas harus lebih jeli dan idealnya membawa mekanik tepercaya saat inspeksi.
Namun, tren ini memberikan gambaran jelas tentang pergeseran prioritas konsumen. Di tengah kondisi ekonomi yang menuntut perhitungan lebih ketat, mobil bekas bukan lagi pilihan kelas dua, melainkan keputusan finansial yang cerdas dan terukur.