MENTOK — Jalan-jalan di pusat Kota Mentok berubah menjadi ruang publik yang penuh warna sejak Senin pagi. Pawai kemerdekaan yang digelar Pemerintah Kabupaten Bangka Barat ini diikuti 50 peserta dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelajar SD hingga organisasi kepemudaan.
Rute pawai dimulai dari Lapangan Golf dan berakhir di Gedung Perpustakaan Daerah/Mal Pelayanan Publik. Panitia mencatat jumlah peserta naik dari 48 orang pada Sabtu (22/8/2026) menjadi 50 orang saat pelaksanaan.
Barisan anak-anak menjadi pemandangan paling menonjol sepanjang pawai. Mereka berjalan dengan seragam merah-putih, sebagian mengenakan ornamen emas dan topi berbulu merah. Irama drum yang ditabuh bergantian menembus riuh percakapan penonton.
Delapan sekolah dasar tercatat ambil bagian, di antaranya MIT SAQU Salsabila, SD 20 Mentok, SD 15 Mentok, SD 6 Mentok, SD 21 Mentok, SD 1 Mentok, SD 19 Mentok, dan SD Muhammadiyah Mentok. Dari jenjang SMP, terdapat SMPN 2 Mentok, SMPN 5 Mentok, SMPN 3 Mentok, dan SMP Santa Maria.
Sementara dari tingkat SMA, peserta berasal dari SMAN 1 Mentok, SMKN 1 Mentok, SMK Bina Karya 2, SMK Bina Karya 1, dan MAN 1 Bangka Barat.
Cuaca menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pelaksanaan pawai. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Bangka Barat, Thanthowi, S.IP, mengimbau peserta menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca yang sangat panas di siang hari.
"InsyaAllah kita akan mulai jam 07.00 WIB mengingat kondisi cuaca yang sangat panas di siang hari. Tampilkan performa terbaik," ujar Thanthowi, Senin (24/8/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa panas bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi berkaitan dengan keselamatan peserta, terutama anak-anak yang berjalan dalam barisan.
Di balik kemeriahan parade, aparat kepolisian berdiri di sepanjang jalur untuk mengatur lalu lintas dan memastikan peserta bergerak aman. Mereka tidak mengenakan kostum warna-warni, tetapi menjadi bagian penting dari kelancaran acara.
Pengamanan meliputi pengaturan lalu lintas, pengendalian kerumunan, dan memastikan jalur pawai steril dari kendaraan umum selama acara berlangsung.
Sepeda hias, motor hias, dan mobil hias menambah warna pada rangkaian pawai. Peserta umum seperti HAPKIDO, Kampung Puput, Gokasi, Wate Bida, Pencak Silat Satria Muda, KNPI, Tresno Budoyo, dan RW 02 Kampung Air Terjun turut memeriahkan acara.
Dari unsur pemerintah dan instansi, Dikpora Bangka Barat, Bapperida Bangka Barat, dan Dinas Lingkungan Hidup Bangka Barat ikut ambil bagian. Keragaman peserta memperlihatkan bagaimana jalan publik menjadi ruang perjumpaan antara sekolah, komunitas, dan pemerintah.
Bagi anak-anak yang belum sepenuhnya memahami sejarah kemerdekaan melalui buku pelajaran, pawai memberi pengalaman langsung tentang kebersamaan, disiplin, dan tanggung jawab. Mereka belajar bahwa menjadi bagian dari sebuah bangsa berarti mampu berjalan bersama meskipun memiliki perbedaan.