PANGKALPINANG — Edi Nasapta menyoroti antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pulau Belitung yang dinilainya mulai mengganggu aktivitas warga. Ia meminta Pertamina tidak hanya berpegang pada laporan stok, tetapi memastikan BBM benar-benar bisa diperoleh masyarakat secara wajar.
Menurut Edi, ukuran pasokan aman bukan sekadar angka dalam laporan internal perusahaan. Ia menekankan ketersediaan riil di nozzle SPBU menjadi tolok ukur yang sesungguhnya.
"Pertamina jangan hanya mengatakan stok aman, sementara kenyataan di lapangan masyarakat masih mengantre panjang. Ukuran pasokan aman bukan sekadar angka dalam laporan, tetapi BBM tersedia dan dapat diperoleh masyarakat secara wajar," tegas Edi, Senin (21/9/2026).
Edi meminta Pertamina mempercepat distribusi dan menambah pasokan hingga kondisi SPBU di Belitung kembali normal. Menurutnya, ada sejumlah langkah operasional yang bisa segera dijalankan.
Langkah-langkah tersebut, kata dia, diperlukan sebagai respons cepat sebelum pasokan kembali stabil. Edi menilai penanganan darurat harus diambil tanpa menunggu evaluasi kuota selesai.
Selain langkah darurat, Edi mendesak Pertamina membuka data terkait kuota, stok terminal, penyaluran harian, jadwal kedatangan kapal pengangkut, hingga distribusi BBM ke masing-masing SPBU. Data itu mencakup wilayah Kabupaten Belitung dan Belitung Timur.
Ia memberi tenggat 2x24 jam kepada Pertamina untuk menjelaskan penyebab antrean sekaligus menyampaikan jadwal pemulihan pasokan. Sejumlah kemungkinan yang menurutnya perlu dijelaskan mencakup kekurangan kuota, keterlambatan pengiriman, masalah distribusi, hingga potensi kebocoran penyaluran.
"Dalam waktu 2×24 jam, Pertamina harus memberikan penjelasan terbuka mengenai penyebab antrean ini sekaligus menyampaikan jadwal pemulihan pasokan. Apakah kuotanya kurang, pengiriman terlambat, distribusinya bermasalah, atau terjadi kebocoran penyaluran, semuanya harus dijelaskan kepada masyarakat," ujarnya.
Edi menilai evaluasi kuota perlu dilakukan bila data kebutuhan riil menunjukkan pasokan Pertalite untuk Pulau Belitung sudah tidak mencukupi. Pemerintah daerah, Pertamina, dan BPH Migas diminta duduk bersama melakukan penyesuaian.
Usulan itu menyasar akar masalah, bukan hanya gejala antrean di SPBU. Tanpa penyesuaian kuota, antrean dikhawatirkan berulang meski pasokan darurat sempat ditambah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari PT Pertamina Patra Niaga mengenai permintaan tersebut. Warga di Belitung dan Belitung Timur menantikan kepastian jadwal pemulihan pasokan BBM dalam dua hari ke depan.