Akademisi UBB Tri Lestari Bawa Gagasan Smart Fisheries Indonesia ke Forum Nanning, China

Penulis: Parsaoran Hutapea  •  Rabu, 23 September 2026 | 11:31:31 WIB
Akademisi UBB Dr. Tri Lestari mengikuti forum smart fisheries di Nanning, China, 14–19 September 2026.

Akademisi Universitas Bangka Belitung (UBB), Dr. Tri Lestari, menjadi bagian delegasi Indonesia dalam Guangxi International Exchange Event on Smart Fisheries Innovation and Development di Nanning, Guangxi, China, 14–19 September 2026. Forum itu mempertemukan Indonesia, China, ASEAN, dan mitra Asia untuk bertukar pengetahuan soal inovasi, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia di sektor perikanan serta akuakultur berkelanjutan. Keterlibatan Tri Lestari disebut membuka peluang kolaborasi riset dan penguatan kapasitas SDM lintas negara.

PANGKALPINANG — Delegasi Indonesia dalam forum tersebut dipimpin Dr. Henny Saptatia DN, Ketua Departemen Kajian Stratejik Global dan Kewilayahan (KSGK) Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI), yang juga menjabat Ketua Advisory Board ASEAN-China Research Centre (ACRC). Tri Lestari mendampinginya sebagai Associate Professor sekaligus mantan Dekan Fakultas Pertanian, Perikanan dan Kelautan UBB.

Forum digelar Department of Agriculture and Rural Affairs of Guangxi Zhuang Autonomous Region, didukung sejumlah institusi seperti Guangxi Aquatic Species Introduction and Breeding Centre, Guangxi Vocational University of Agriculture, dan China-ASEAN Agriculture Training Centre. Pertemuan ini menjadi ruang pertukaran pengalaman soal inovasi, teknologi, pengembangan SDM, hingga pembangunan perikanan dan akuakultur berkelanjutan.

Perikanan sebagai Isu Strategis bagi Indonesia

Dalam forum tersebut, Henny menyampaikan perspektif Indonesia bahwa pengembangan perikanan dan akuakultur tidak boleh hanya berorientasi pada kemajuan teknologi. Kapasitas manusia sebagai pelaku utama pembangunan sektor itu harus ikut diperkuat.

Menurutnya, perikanan dan akuakultur punya dimensi strategis yang berkaitan dengan ketahanan pangan, penghidupan masyarakat pesisir, pertumbuhan ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan wilayah perairan luas, Indonesia berkepentingan besar terhadap sektor perikanan yang inovatif dan berkelanjutan.

Teknologi Harus Sejalan dengan Kapasitas Manusia

Henny menegaskan pengembangan smart fisheries tidak cukup mengandalkan kecerdasan artifisial, big data, sensor, informasi satelit, digital traceability, maupun sistem akuakultur pintar. Pemanfaatan teknologi itu harus berjalan beriringan dengan kemampuan manusia untuk memahami, mengoperasikan, mengadaptasi, dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

Dari situ, delegasi Indonesia mengusulkan gagasan "Smart Fisheries Human Capability Network". Jejaring ini mempertemukan perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, pusat pelatihan, sektor swasta, nelayan, dan pembudidaya ikan.

Isi Jejaring: Pelatihan hingga Pemberdayaan Perempuan

Jejaring yang diusulkan diarahkan untuk mendorong pelatihan dan sertifikasi bersama, riset kolaboratif, living laboratories, pertukaran pengetahuan dan data, serta pemberdayaan generasi muda dan perempuan dalam ekonomi biru.

Keterlibatan Tri Lestari dinilai menjadi bagian penting dalam mempertemukan perspektif kajian strategik dan global dengan keahlian di bidang pertanian, perikanan, dan kelautan. Pengalaman akademiknya membuka ruang bagi pengembangan agenda riset bersama yang relevan dengan kebutuhan pembangunan sektor tersebut di kawasan.

Momentum UBB Perluas Jejaring Akademik

Bagi UBB, keikutsertaan akademisi dalam forum internasional itu menjadi momentum memperluas jejaring akademik dan memperkuat peluang kolaborasi lintas negara. Kolaborasi dapat dikembangkan tidak hanya dalam riset, tetapi juga pendidikan, pelatihan, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan kapasitas SDM.

Ke depan, kerja sama antara Indonesia, China, ASEAN, dan mitra Asia lainnya diharapkan menghasilkan kolaborasi lebih konkret untuk mendukung pembangunan perikanan dan akuakultur yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.

Keterlibatan akademisi UBB itu sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi dalam memperluas kontribusi keilmuan Indonesia di tingkat global, khususnya untuk menjawab tantangan ketahanan pangan, ekonomi biru, transformasi teknologi, dan keberlanjutan sumber daya perikanan dan kelautan.

Reporter: Parsaoran Hutapea
Sumber: babel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top