117 Peserta Sanggar Seruni Unjuk Seni di Museum Timah Mentok, 20 Penari dari Belitung Ikut Tampil

Penulis: Jonatan Nasution  •  Sabtu, 26 September 2026 | 12:32:01 WIB
Peserta Sanggar Seruni menampilkan tarian di halaman Museum Timah Indonesia Mentok dalam Seruni Art Festival III.

MENTOK — Panggung Seruni Art Festival III digelar di halaman Museum Timah Indonesia Mentok, bukan di gedung pertunjukan biasa. Yayasan Seni Seruni Production memilih situs bekas pusat pertambangan timah itu sebagai ruang ekspresi bagi peserta didik sanggar tari.

Peserta yang tampil seluruhnya anak-anak dan remaja binaan Sanggar Seruni. Dari 117 orang, 20 peserta menyeberang dari Pulau Belitung untuk ikut serta. Kehadiran mereka memperluas jangkauan festival keluar batas kabupaten.

Museum Timah Dipilih sebagai Ruang Pertunjukan

Museum Timah Indonesia Mentok menyimpan jejak sejarah pertambangan timah di Bangka Belitung. Lokasi itu dinilai memberi bobot berbeda bagi pertunjukan seni anak-anak.

Bupati Bangka Barat menyebut pilihan lokasi bersejarah sebagai langkah strategis. Menurutnya, seni, budaya, dan ekonomi kreatif harus ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan daerah, bukan semata-mata pertunjukan hiburan.

"Festival ini adalah bukti nyata bahwa seni, budaya, dan ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan, menjadi motor penggerak pembangunan daerah sekaligus memperkuat identitas kita sebagai masyarakat Bangka Barat," ujar Bupati.

Regenerasi Penari dan Ruang Partisipasi Pelaku Ekraf

Festival ini menyasar dua hal sekaligus: pembinaan bakat generasi muda dan pembukaan ruang bagi pelaku ekonomi kreatif lokal. Peserta didik Sanggar Seruni menjadi peserta utama, sementara pelaku usaha kecil di sekitar lokasi mendapat kesempatan berpartisipasi.

"Festival ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat," katanya.

Menurut Bupati, kegiatan seni semacam ini membuka ruang partisipasi bagi pelaku ekonomi kreatif di Bangka Barat. Pertunjukan tari, busana, dan kebutuhan panggung lain membentuk rantai ekonomi kecil yang melibatkan warga setempat.

Modal Wisata Bangka Barat: Sejarah, Budaya, Bahari, Kuliner

Bangka Barat punya empat modal wisata yang bisa dikembangkan terintegrasi. Di sektor sejarah, ada Wisma Ranggam dan Bukit Menumbing yang berkaitan dengan jejak perjuangan bangsa.

Dari sisi budaya, tradisi Melayu dan Tionghoa tumbuh berdampingan sebagai bagian perjalanan masyarakat setempat. Potensi bahari tersedia lewat pantai dan panorama laut, sementara kekayaan kuliner lokal seperti berbagai jenis kue dan otak-otak melengkapi daya tarik daerah.

Pengembangan seni dan budaya diyakini bisa memperkuat posisi Bangka Barat di sektor pariwisata. Festival di Museum Timah Mentok menjadi contoh bagaimana ruang bersejarah difungsikan ulang sebagai panggung anak muda.

Reporter: Jonatan Nasution
Sumber: faktaberita.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top