Kebakaran Karst Pangkep Ancam Situs Purba Sabila dan Lukisan Gua

Penulis: Monang Simanjuntak  •  Sabtu, 24 Oktober 2026 | 10:08:31 WIB
Kebakaran karst TN Babul di Pangkep merembet ke area sekitar Situs Sabila.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kebakaran hutan dan lahan di kawasan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, merembet ke area sekitar situs prasejarah Sabila. Hingga Kamis (15/10/2026), Balai TN Babul mencatat total 93,43 hektare terbakar dengan vegetasi dominan jati dan rumpun bambu. Arkeolog memperingatkan panas ekstrem dan jelaga asap berpotensi merusak artefak alat batu serta lukisan gua di kawasan tersebut.

Arkeolog Universitas Griffith Australia, Basran Burhan, menyebut Situs Sabila berada tepat di kaki bukit karst, sementara titik api menyala di tebing beberapa meter di atasnya. Posisi itu membuat situs permukaan tanah yang menyimpan alat batu dan sisa makanan masa lalu tersebut berada dalam jangkauan dampak kebakaran.

"Situs Sabila itu posisinya pas di bawahnya, titik kebakaran ada di atasnya, kira-kira beberapa meter di atas site. Tapi api belum sampai masuk ke dalam situs," kata Basran kepada detikSulsel, Kamis (15/10/2026).

Meski kobaran api belum menyentuh deposit tanah, Basran menilai panas ekstrem dari tebing di sekitarnya tetap perlu diwaspadai. Observasi lapangan mendalam belum dilakukan, sehingga sejauh mana dampak langsung kebakaran terhadap situs belum bisa dipastikan.

Lukisan Gua Paling Rentan Terhadap Perubahan Iklim Mikro

Perhatian terpisah tertuju pada gua-gua bergambar prasejarah di kawasan karst Pangkep. Belum ada laporan kerusakan dinding gua bergambar akibat kebakaran, tetapi arkeolog mengingatkan risiko yang lebih halus: perubahan suhu dan kondisi udara di dalam kawasan.

"Yang pasti lukisan tua itu sangat sensitif dengan perubahan iklim mikro. Itu berpengaruh sekali pada ketahanan gambar," ujar Basran.

Asap kebakaran membawa jelaga yang bisa menempel di permukaan lukisan. Jika berlangsung terus-menerus, endapan itu memicu pengelupasan dinding dan menutupi gambar purba. Dampak semacam ini tidak langsung terlihat, tetapi berlangsung lama.

Kebakaran Berulang di Lokasi yang Sama Sejak 2014

Catatan Basran menunjukkan kawasan sekitar Minasatene hingga Liang Kasti pernah terbakar pada 2014-2015. Lokasi kebakaran terbaru berada di titik yang sama, sehingga ia menilai kejadian ini seharusnya sudah bisa dimitigasi.

Sumber api sering kali berasal dari aktivitas warga di titik pengambilan air. Karena itu, Basran mendorong Balai Pelestarian Kebudayaan bersama pengelola TN Babul mengevaluasi penanganan setelah seluruh titik api dipastikan padam, sekaligus memperkuat pengawasan di sekitar situs.

"Upaya jangka panjangnya tentu saja menjaga kondisi iklim mikro di tiap situs dan meningkatkan kesadaran warga agar tidak menyalakan api atau membuang puntung rokok sembarangan di area rawan," kata dia.

Luas Terbakar Bertambah Tiga Hari Berturut-turut

Kebakaran pertama dilaporkan di Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, pada Minggu (11/10) sekitar pukul 21.00 Wita. Api lalu meluas ke kawasan karst Kampung Batu Napara, Kelurahan Balocci Baru.

Data Balai TN Babul mencatat 34,74 hektare terbakar pada Senin (12/10), lalu 13,67 hektare pada Selasa (13/10). Sehari berikutnya luas lahan terbakar bertambah 45,02 hektare.

"Total akumulasi luas karhutla sampai hari ini sudah mencapai 93,43 hektare. Vegetasi yang terbakar didominasi oleh tegakan pohon jati dan rumpun bambu, mulai dari lantai hingga ke tajuk karst," kata Kepala Balai TN Babul, Abdul Rajab, kepada wartawan, Kamis (15/10).

Dampak bagi Wisata TN Babul

TN Babul selama ini dikenal sebagai destinasi andalan Sulawesi Selatan, dengan gua prasejarah, air terjun, dan jalur karst sebagai daya tarik utama. Kebakaran di area karst berpotensi memengaruhi kenyamanan kunjungan, terutama pada jalur yang berdekatan dengan titik api.

Calon pengunjung sebaiknya memastikan status kawasan dan jalur trekking ke gua prasejarah melalui Balai TN Babul atau dinas pariwisata setempat sebelum berangkat. Informasi terkini soal pembukaan jalur, kondisi udara, dan akses ke situs belum tentu sama dengan kondisi normal.

Untuk kawasan karst yang rawan api, wisatawan diimbau tidak menyalakan api unggun, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan melaporkan titik asap ke petugas. Kebakaran berulang di titik yang sama menunjukkan bahwa pengawasan kawasan bergantung juga pada kedisiplinan pengunjung dan warga sekitar.

Reporter: Monang Simanjuntak
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top