BANGKA BELITUNG – TNI Angkatan Laut (TNI AL) kembali menunjukkan komitmen tegas dalam memberantas praktik penambangan dan perdagangan ilegal di wilayah perairan Indonesia. Dalam kunjungan kerjanya pada Senin (16/2/2026), Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali memamerkan ratusan ton barang bukti timah hasil sitaan di Bangka Belitung.
Operasi ini merupakan buah sinergi antara TNI AL dengan Satgas Tri Cakti—gabungan matra Darat, Laut, dan Udara—guna menekan kerugian negara akibat penyelundupan sumber daya alam keluar negeri.
Rincian Barang Bukti Timah yang Disita
Total komoditas timah yang berhasil digagalkan pelepasannya mencapai 496 ton, dengan rincian teknis sebagai berikut:
| Jenis Komoditas | Volume (Ton) | Status |
|---|---|---|
| Biji / Pasir Timah | 313,209 | Bahan Mentah |
| Balok Timah | 183,142 | Siap Jual |
| Timah Cetak | 0,541 | Olahan |
| Timah Koin | 0,121 | Olahan |
| TOTAL | ± 496 Ton | Nilai: Rp173,6 Miliar |
Selain timah, operasi Keamanan Laut (Opskamla) ini juga berhasil mengamankan sekitar 10,7 ribu ton mineral logam tanah jarang yang sangat berharga secara global. Temuan ini meliputi:
Monasit: 9,3 ribu ton.
Zircon: 1,3 ribu ton.
Ilmenit: Saat ini masih dalam proses perhitungan volume akhir.
Laksamana TNI Muhammad Ali mengungkapkan bahwa para pelaku penyelundupan terus memperbarui metode mereka untuk mengecoh petugas. Salah satu modus yang paling sering ditemukan adalah menyamarkan pengiriman timah di bawah tumpukan ikan atau hasil laut lainnya.
"Kami fokus pada upaya pencegahan dan penindakan di lapangan agar kebocoran sumber daya alam ini tidak terjadi lagi. Untuk proses penegakan hukum selanjutnya bagi para pelaku, seluruhnya akan kami serahkan kepada pihak Kejaksaan," tegas KSAL Muhammad Ali, Senin (16/2/2026).
Penangkapan berskala besar ini diharapkan memberikan efek jera (deterrent effect) bagi para mafia tambang yang kerap menggunakan jalur laut sebagai rute utama penyelundupan mineral strategis Indonesia menuju pasar internasional.