Pencarian

Harga Emas Antam Tembus Rp2.711.000 per Gram, Rekor Baru di Tengah Ketidakpastian Global

Sabtu, 13 Juni 2026 • 10:23:01 WIB
Harga Emas Antam Tembus Rp2.711.000 per Gram, Rekor Baru di Tengah Ketidakpastian Global
Harga emas Antam mencapai rekor tertinggi Rp2.711.000 per gram di tengah ketidakpastian ekonomi global.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Harga logam mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kembali mencetak rekor. Berdasarkan situs resmi Logam Mulia, harga emas Antam ukuran 1 gram naik Rp14.000 dari posisi sebelumnya yang berada di Rp2.697.000 per gram. Ini adalah level tertinggi sepanjang sejarah emas Antam.

Dolar AS dan Ketidakpastian Jadi Katalis

Pemicu utama reli emas bukan berasal dari dalam negeri. Pasar global tengah dihantui kekhawatiran perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan potensi perang dagang baru. Indeks dolar AS yang melemah membuat emas—yang dihargai dalam dolar—semakin murah bagi pemegang mata uang lain, termasuk rupiah.

Data terbaru menunjukkan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun turun ke level 4,12%. Suku bunga riil yang lebih rendah ini membuat emas, sebagai aset tanpa imbal hasil, menjadi lebih atraktif dibandingkan obligasi.

Buyback Ikut Naik, Investor Punya Opsi Likuidasi

Selain harga jual, harga buyback emas Antam juga ikut terkerek. Harga yang digunakan saat menjual kembali emas ke Antam naik Rp13.000 menjadi Rp2.461.000 per gram. Selisih antara harga jual dan buyback saat ini mencapai Rp250.000 per gram, yang merupakan margin standar untuk biaya produksi, ongkos cetak, dan markup.

Bagi investor yang telah membeli emas di level bawah, selisih ini memberikan ruang cuan yang signifikan. Namun, perlu diingat bahwa keuntungan baru benar-benar terealisasi jika emas dijual kembali di pasar sekunder atau ke Antam langsung.

Apa Artinya Bagi Investor Ritel?

Kenaikan ini mengonfirmasi bahwa emas masih menjadi instrumen lindung nilai (hedging) yang efektif di saat aset berisiko seperti saham bergejolak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri dalam sepekan terakhir bergerak mixed dengan kecenderungan melemah, terbebani aksi jual investor asing.

Bagi pelaku bisnis, kenaikan harga emas juga berdampak pada sektor perhiasan dan industri yang menggunakan emas sebagai bahan baku. Biaya produksi dipastikan naik, dan ini biasanya akan diteruskan ke harga jual produk akhir. Investor ritel yang ingin menambah porsi emas di portofolio disarankan untuk tidak mengejar harga, melainkan membeli secara bertahap (dollar cost averaging). Investasi pada logam mulia mengandung risiko, terutama jika harga turun akibat penguatan dolar AS atau kenaikan suku bunga acuan global.

Bagikan
Sumber: cnbcindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks