PANGKALPINANG — Rudianto Tjen mengingatkan bahwa persatuan Indonesia bukanlah harga mati yang bisa dianggap enteng. Ia menyebutkan bahwa perjuangan mempersatukan wilayah dari Sabang sampai Merauke membutuhkan pengorbanan besar, dan jika bangsa ini terpecah belah, dampaknya akan sangat nyata.
“Kalau Indonesia terbelah, kita bisa saja butuh paspor untuk berkunjung ke Jawa, Sumatera, atau Papua, padahal semuanya adalah tanah air kita. NKRI dibangun dengan pengorbanan besar, jadi jangan sampai kita biarkan terpecah,” tegasnya di hadapan peserta seminar.
Musuh Bersama Bukan Sesama Kader
Dalam kesempatan itu, Rudianto juga mengajak mahasiswa untuk mengubah paradigma perjuangan. Menurutnya, tantangan terbesar yang kini dihadapi bangsa bukanlah perselisihan internal antarkader partai, melainkan masalah struktural yang lebih mendasar.
“Musuh kita bukan sesama kader, melainkan kemiskinan dan kebodohan. Semua harus bersatu padu untuk menyelesaikannya, bukan saling bersaing atau berpecah belah,” ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.
Ia menambahkan bahwa tantangan kemiskinan dan kebodohan ini semakin terasa di tengah gejolak ekonomi global dan kenaikan harga bahan bakar yang membebani masyarakat.
Mahasiswa Jadi Perpanjangan Suara Rakyat
Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Kepulauan Bangka Belitung, Didit Srigusjaya, menekankan bahwa prinsip utama perjuangan partai adalah memperjuangkan aspirasi rakyat, bukan sekadar soal menang atau kalah dalam kontestasi politik. Ia memandang mahasiswa sebagai agen perubahan yang kritis dan dibutuhkan masukan serta kritiknya.
“Kami tidak akan pernah mengabaikan pendapat mahasiswa. Ruang dialog selalu kami buka setiap tahun agar ide dan gagasan generasi muda bisa menjadi dasar penyusunan program yang tepat sasaran,” ujar Didit.
Didit juga mengajak seluruh pihak untuk menjaga iklim demokrasi yang kondusif dan berjalan sesuai aturan serta norma masyarakat. Ia menyampaikan permohonan maaf atas keterbatasan ruang yang membuat tidak semua mahasiswa bisa hadir, namun berjanji akan menyediakan ruang diskusi yang lebih luas pada kesempatan mendatang.
Semangat Gotong Royong Ala Bung Karno
Seminar nasional ini bertujuan menanamkan nilai kebangsaan dan memperkuat persatuan di kalangan generasi muda. Selain sesi diskusi, kegiatan ini juga dirancang untuk membangun semangat gotong royong dan memperluas jaringan antar mahasiswa se-Bangka Belitung.
Dalam sambutannya, panitia mengingatkan pesan Bung Karno yang menjadi tema besar acara: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” Para mahasiswa diajak untuk menjadi bagian dari gerakan progresif yang sesuai dengan semangat perjuangan sang proklamator di era global saat ini.