Pencarian

Harga CPO Turun 2,98 Persen Sepekan, Terendah dalam 12 Pekan

Sabtu, 03 Oktober 2026 • 12:36:32 WIB
Harga CPO Turun 2,98 Persen Sepekan, Terendah dalam 12 Pekan
Harga CPO acuan Malaysia turun 2,98 persen dalam sepekan ke level terendah dalam 12 pekan.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Harga minyak sawit mentah (CPO) acuan Malaysia ditutup di 4.533 ringgit per metrik ton pada Jumat (2/10/2026), turun 0,46 persen dan menjadi level terendah sejak 10 Juli 2026. Dalam sepekan, kontrak pengiriman Desember itu melemah 2,98 persen — penurunan mingguan kedua berturut-turut. Pelemahan ini berpotensi menekan harga tandan buah segar (TBS) petani sawit Indonesia dalam beberapa pekan ke depan.

Kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange mencatat sesi penurunan keenam beruntun. Tekanan datang dari lemahnya permintaan ekspor, produksi yang meningkat, serta ekspektasi kenaikan stok akhir di Malaysia hingga menembus 3 juta ton.

Seorang trader berbasis di Kuala Lumpur menyebut pasar sedang dibebani tiga faktor sekaligus. "Futures CPO Bursa Malaysia berada di bawah tekanan akibat ekspor yang lemah, produksi yang meningkat, serta kenaikan stok akhir hingga lebih dari 3 juta ton," ujarnya, seperti dikutip Reuters.

Ekspor Melambat, Stok Menumpuk

Penurunan ekspor menjadi pemicu utama koreksi harga pekan ini. Permintaan dari India dan China — dua pembeli terbesar CPO dunia — belum menunjukkan pemulihan signifikan menjelang akhir tahun.

Di sisi pasokan, produksi sawit Malaysia memasuki periode puncak musiman. Alhasil, stok akhir Malaysia diproyeksikan melewati 3 juta ton, level yang biasanya menekan harga ke bawah.

Kombinasi ekspor lemah dan stok menumpuk membuat pedagang memilih melepas posisi. Kontrak acuan Desember ditutup di 4.533 ringgit per metrik ton, turun 0,46 persen dibanding sehari sebelumnya.

Dampak ke Petani dan Industri Sawit Indonesia

Harga CPO Malaysia kerap menjadi rujukan pembentukan harga TBS di Indonesia, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Penurunan beruntun dua pekan terakhir bisa menekan pendapatan petani swadaya yang menjual TBS ke pabrik kelapa sawit.

Bagi industri hilir, koreksi harga bahan baku sebenarnya menguntungkan. Produsen minyak goreng, margarin, dan oleokimia bisa menekan biaya produksi jika tren ini berlanjut. Namun, perusahaan yang sudah terlanjur membeli stok di harga tinggi berisiko menanggung selisih nilai persediaan.

Pemerintah sendiri masih mengejar target peningkatan ekspor produk hilir sawit. Pelemahan harga global bisa mengurangi penerimaan devisa, meski volume ekspor belum tentu turun.

Yang Perlu Dicermati Pekan Ini

Pelaku pasar akan menunggu rilis data ekspor Malaysia periode awal Oktober dan laporan persediaan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB). Jika stok kembali naik, tekanan jual berpotensi berlanjut.

Dari sisi permintaan, pemulihan pembelian India menjelang festival Diwali biasanya menjadi katalis positif. Namun tahun ini, pembeli dilaporkan masih menahan diri karena harga masih dianggap belum cukup murah.

Harga CPO Malaysia kini berada di titik terendah dalam 12 pekan. Bagi Indonesia sebagai produsen terbesar dunia, pelemahan ini menjadi pengingat bahwa harga komoditas tetap rentan terhadap dinamika pasokan global — dan dampaknya akan terasa sampai ke tingkat petani.

Follow suarababel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: idxchannel.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks