KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Ad Astra resmi masuk daftar tayang Netflix pada 1 Oktober dan langsung jadi salah satu judul paling menarik di antara hampir 60 film yang ditambahkan sekaligus. Film garapan James Gray ini menelan biaya produksi sekitar USD 100 juta (setara Rp 1,6 triliun) dan menampilkan Brad Pitt sebagai astronaut yang menempuh perjalanan dari Bumi ke Neptunus. Visualnya bersaing dengan Interstellar, tapi narasinya yang lambat bikin penonton terbelah — skor kritikus 83%, skor audiens cuma 40%.
Ad Astra bukan film yang gampang dijual ke penonton awam. Trailer-nya menggoda dengan adegan kejar-kejaran buggy di permukaan bulan dan aksi perompak antariksa, tapi begitu film berjalan, James Gray justru mengajak penonton masuk ke kepala seorang pria yang nyaris tidak bisa merasakan apa pun. Ini bukan sci-fi perang melawan alien. Ini cerita tentang ayah dan anak yang dibungkus perjalanan antarplanet.
Sinopsis: Misi Roy McBride Menembus Neptunus
Tiga puluh tahun sebelumnya, astronaut senior Clifford McBride (Tommy Lee Jones) memimpin ekspedisi ke luar angkasa dalam untuk mencari tanda-tanda kehidupan cerdas di galaksi. Enam belas tahun setelah misi berjalan, kontak dengan Clifford dan timnya hilang. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi.
Di Bumi, putranya yang sudah lama terpisah, Roy McBride (Brad Pitt), mengikuti jejak sang ayah dan menjadi astronaut andal. Ketika serangkaian lonjakan daya mengancam kehidupan di planet ini, muncul dugaan bahwa jawabannya terhubung dengan misi Clifford. Sinyal dari Neptunus menunjukkan Clifford mungkin masih hidup. Roy pun dikirim ke luar angkasa untuk mencari kebenaran tentang ayahnya — sekaligus menyelamatkan Bumi.
Visual Jadi Kekuatan Utama, Bukan Aksi
Alasan terkuat menonton Ad Astra ada di presentasinya. Film ini membawa penonton dari Bumi ke Bulan, lalu ke Mars, dan terus ke luar. Setiap lanskap antariksa digarap dengan detail yang layak dibandingkan dengan Interstellar.
Kalau visualnya berani, terang, dan memukau, kerangka narasinya justru lebih dingin. Roy adalah karakter yang menarik — digerakkan rasa kewajiban sekaligus dendam pada ayah yang lama absen — tapi dia bukan sosok yang hangat. Film mencoba membuatnya lebih simpatik lewat kehadiran mantan istri yang diperankan Liv Tyler, meski porsinya terbatas.
Di luar satu adegan kejar-kejaran buggy di permukaan bulan yang melibatkan gerombolan perompak antariksa, ketegangan film ini justru datang dari momen-momen tenang yang berpusat pada karakter. Motif berulang berupa evaluasi psikologis yang dijalani Roy cukup efektif membawa penonton masuk ke isi kepalanya. Jangan harap perjalanan penuh aksi.
Optimisme di Tengah Trauma Antar Generasi
Meski berkutat pada trauma antar generasi dan kesulitan Roy terhubung dengan orang lain, Ad Astra menyimpan optimisme, terutama di ending-nya. Ini film sci-fi yang pada akhirnya menemukan harapan di dalam semesta.
Penerimaan penonton memang terbelah. Pemasaran yang dinilai menyesatkan — menjual Ad Astra sebagai sesuatu yang bukan dirinya — plus tempo yang lambat membuat sebagian orang tidak betah. Pengalaman menonton bisa sangat berbeda tergantung selera.
Di sisi lain, penerimaan kritikus solid. Di Rotten Tomatoes, Ad Astra memegang rating 83% dengan status Certified Fresh. Ringkasan situs itu menyebut film ini "mengambil perjalanan visual yang mendebarkan melintasi luasnya angkasa sambil menorehkan arah ambisius menuju inti ikatan antara orang tua dan anak."
Kenapa Skor Audiens 40% Terlalu Rendah
Dalam filmografi Brad Pitt yang padat, Ad Astra menonjol sebagai judul yang layak dinilai ulang. Skor audiens 40% di Rotten Tomatoes terasa terlalu keras untuk film yang punya visi jelas dan performa akting yang kuat.
Kedatangan Ad Astra di Netflix memberi kesempatan kedua yang mungkin tidak dimilikinya saat tayang di bioskop pada 2019. Penonton yang melewatkannya di layar lebar kini bisa menilainya sendiri dari ruang keluarga.
Kalau belum yakin, daftar tayang Netflix Oktober 2026 menyediakan banyak alternatif film dan serial lain untuk ditambahkan ke watchlist. Tapi kalau mencari sci-fi yang menenangkan dan bukan sekadar ledakan, Ad Astra layak masuk antrean.