PALEMBANG — Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumatera Selatan Sudirman menyatakan penanganan karhutla sementara waktu mengandalkan jalur darat. Jarak pandang yang terbatas membuat armada udara tidak bisa dioperasikan.
"Iya betul, empat hari ini penanganan karhutla tak mengandalkan helikopter water bombing karena jarak pandang yang terbatas," ujar Sudirman, Minggu (11/10/2026).
Empat helikopter water bombing terakhir terbang pada 7 Oktober lalu. Satu helikopter lainnya masih dalam perbaikan sehingga belum bisa operasional.
Patroli Udara Ikut Terhenti, Armada Masih Standby di Palembang
Bukan hanya water bombing, patroli udara yang bertugas memantau titik hotspot dan karhutla juga tidak bisa terbang. Armada patroli terakhir mengudara pada 6 dan 7 Oktober lalu.
"Termasuk juga helikopter dan pesawat patroli udara tak bisa terbang karena jarak pandang terbatas akibat asap di Palembang," jelas Sudirman.
Meski tidak dioperasikan, armada udara tersebut masih tetap standby di Palembang. Pemantauan titik api untuk sementara dilakukan lewat jalur darat.
Pesawat OMC Dipindah ke Pangkalpinang demi Tetap Bisa Terbang
Kabut asap pekat juga berdampak pada pesawat yang menjalankan operasi modifikasi cuaca. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan Ferdian Krisnanto mengatakan pesawat OMC dialihkan sementara ke Bandara Depati Amir Pangkalpinang.
"Base pesawat OMC dari Bandara Depati Amir Bangka sudah 2 hari ini dikerjakan," kata Ferdian.
Menurutnya, jarak pandang di Palembang membuat pesawat tidak bisa lepas landas. Pengalihan ke Pangkalpinang dipilih agar pesawat tetap bisa terbang menuju area karhutla di Sumsel.
"Kendala kita visibility di aerodrome yg rendah hingga pesawat tidak dapat terbang. Tapi, di area rata-rata agak terbuka. Dengan pertimbangan itu pesawat OMC digeser ke Pangkalpinang agar tetap bisa terbang ke area Sumsel," jelasnya.
Dua Sortie Penyemaian Digelar, 1.800 Kg NaCl Disemai di OKI hingga Banyuasin
Pada penyemaian Sabtu (10/10), OMC dilakukan dua sortie menggunakan pesawat Cessna Caravan C208B PK-IKC. Fokus bibit awan hujan yang disemai berada di wilayah OKI.
Sortie satu melakukan penyemaian di wilayah Banyuasin dan OKI sebanyak 1.000 kg NaCl. Sortie dua menyemai di OKI dan OKU sebanyak 800 kg NaCl.
Dengan pengalihan base ke Pangkalpinang, penyemaian awan hujan diharapkan tetap berjalan selama jarak pandang di Palembang belum membaik. Penanganan darat menjadi tumpuan sementara untuk menekan perluasan karhutla.