Pencarian

Riset Ungkap Gas Hidrogen Sianida di Balik Asap Karhutla Gambut

Kamis, 15 Oktober 2026 • 17:39:00 WIB
Riset Ungkap Gas Hidrogen Sianida di Balik Asap Karhutla Gambut
Lahan gambut terbakar memicu pembakaran membara yang melepaskan gas hidrogen sianida (HCN) ke atmosfer.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kebakaran gambut Indonesia melepaskan hidrogen sianida (HCN), gas beracun yang selama ini luput dari perhatian dalam penghitungan emisi karhutla. Temuan itu dipublikasikan di jurnal Atmospheric Chemistry and Physics pada 14 September 2026, hasil analisis emisi El Nino 2015, 2019, dan 2023. HCN disebut lebih sensitif melacak api yang membara di bawah permukaan dibanding indikator luas area terbakar.

Perhatian utama diarahkan ke HCN karena gas ini dapat berfungsi sebagai penanda pembakaran membara atau smouldering combustion. Berbeda dengan api yang berkobar di permukaan, pembakaran jenis ini berlangsung di lapisan gambut dan sulit dipadamkan.

HCN sebagai Penanda Api Bawah Tanah

Dalam abstrak penelitiannya, tim menyebut HCN sebagai penanda sensitif untuk proses pembakaran membara (a sensitive tracer of smouldering combustion). Gas ini juga dapat dilepaskan bersama karbon monoksida (CO) ketika gambut terbakar.

Kemampuan HCN menandai proses pembakaran yang berlangsung lambat di bawah permukaan inilah yang membuat gas ini bernilai bagi ilmuwan. Titik panas di permukaan belum tentu menggambarkan seberapa dalam api telah merambat ke lapisan organik tanah.

Api yang merambat di bawah permukaan dapat membakar lapisan organik tanah dengan karakteristik berbeda dari kebakaran vegetasi biasa. Karena itu, penghitungan emisi yang hanya mengandalkan luas area terbakar berisiko tidak menggambarkan seluruh proses pembakaran gambut.

Kenapa El Nino 2015 Paling Ekstrem

Kebakaran gambut Indonesia pada 2015 menghasilkan jumlah HCN dan CO di atmosfer yang sangat tinggi dibandingkan pengamatan satelit pada periode sebelumnya. Kondisi itu berkaitan dengan kelembapan tanah yang sangat rendah, turunnya muka air tanah, serta pembakaran gambut yang lebih dalam.

Emisi pada 2019 dan 2023 jauh lebih rendah meskipun kedua periode tersebut juga berlangsung saat El Nino. Menurut para peneliti, perbedaan ini menunjukkan bahwa kekuatan El Nino saja tidak cukup untuk menjelaskan besarnya emisi.

Kondisi air di dalam gambut dan kedalaman pembakaran turut menentukan banyaknya gas yang dilepaskan. Dua variabel itu menjadi pembeda utama antara 2015 yang ekstrem dengan 2019 dan 2023 yang lebih terkendali.

Batas yang Perlu Dipahami dari Temuan

Pengamatan HCN dari satelit tidak secara langsung menunjukkan seberapa besar paparan yang diterima warga di permukaan. Data itu juga tidak membuktikan bahwa konsentrasi gas tersebut telah mencapai tingkat berbahaya di suatu permukiman.

Penelitian ini berfokus pada emisi dan kondisi atmosfer dalam skala regional. Artinya, temuan ini memperkuat pemahaman soal proses pembakaran gambut, bukan menggantikan pengukuran kualitas udara di level komunitas.

Dengan memahami kondisi yang memicu pembakaran gambut lebih dalam, ilmuwan dapat memperbaiki perkiraan emisi. Perbaikan itu pada gilirannya membantu menyusun strategi pencegahan karhutla yang lebih presisi.

Studi tersebut menegaskan pentingnya memantau kelembapan tanah dan muka air gambut, selain mengamati titik panas dan luas area terbakar. Bagi Indonesia, indikator air itu bisa menjadi alarm awal sebelum asap mengepul ke permukaan.

Follow suarababel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks