KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya, Laksita Rini Sevriani, mengatakan api mulai membesar saat petugas tiba di lokasi pada pukul 23.04 WIB, hanya enam menit setelah laporan masuk. Satu bangunan satu lantai yang berfungsi sebagai bengkel sepeda listrik dan hunian sudah roboh.
“Saat datang di lokasi, api sudah besar sekali. Bangunan yang satu lantai sudah roboh,” kata Laksita Rini kepada Radio Suara Surabaya, Selasa (26/5/2026).
Hasil penyelidikan awal DPKP menduga api berasal dari korsleting cas motor listrik di bengkel tersebut. Ledakan baterai lithium yang ada di dalam bengkel mempercepat perambatan api ke objek lain. “Baterai lithium yang meledak mempercepat api merembet ke objek lainnya. Api juga cepat merembet ke atas karena atapnya triplek,” ujar Laksita.
Dua bangunan yang terbakar memiliki fungsi berbeda. Bangunan pertama adalah bengkel sepeda listrik yang menyatu dengan hunian. Bangunan kedua terdiri dari dua lantai: lantai dasar untuk toko sembako dan hunian, sementara lantai atas berfungsi sebagai kos-kosan.
Suamah dan Muhammad Azzam Rizki Pratama ditemukan di kamar mandi masing-masing di lantai satu dan dua. Keduanya diduga meninggal karena menghirup banyak asap. Sementara itu, pemilik rumah Dwi Priyo Aprianto dan istrinya Meiga Dita Fisilia selamat. Meiga mengalami luka robek di telapak tangan kanan.
Tiwuk Suryati (46), penghuni kos, mengalami dislokasi kaki kanan dan kiri setelah melompat dari lantai dua untuk menyelamatkan diri. Seluruh korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya setelah Tim Inavis melakukan pembasahan di lokasi.
DPKP Kota Surabaya mengerahkan 13 unit mobil pemadam dan 4 unit penyelamat untuk menjinakkan si jago merah. Meski akses jalan menuju lokasi tergolong sempit, petugas tidak menemui kendala berarti dalam mendapatkan pasokan air. “Kami tidak mengalami kesulitan mendapat air,” kata Laksita Rini.
Data Call Center DPKP mencatat laporan kebakaran masuk pada pukul 22.58 WIB. Proses pemadaman berlangsung hingga api benar-benar padam dan dilanjutkan dengan pembasahan untuk mencegah titik api muncul kembali.
Kebakaran ini menjadi peringatan akan bahaya penyimpanan baterai lithium di permukiman padat penduduk. Konstruksi bangunan dengan material mudah terbakar seperti triplek juga memperbesar risiko korban jiwa dalam waktu singkat.