KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Andrew Yang tidak meluncurkan startup AI lain. Wirausahawan dan mantan kandidat presiden AS ini memilih jalur berbeda: menekan biaya hidup warga Amerika lewat layanan seluler murah. September tahun lalu, ia merilis Noble Mobile, sebuah mobile virtual network operator (MVNO) yang menjual paket data dengan margin tipis dan mengembalikan sisa keuntungan ke pelanggan.
Noble Mobile beroperasi di atas jaringan operator besar AS, tapi tidak mematok harga setinggi mereka. Yang mengklaim pelanggan rata-rata bisa menghemat US$ 50 per bulan — atau sekitar Rp 825.000 per tahun (kurs Rp 16.500 per dolar AS).
“Kami untung per pelanggan, tapi keuntungan itu kami bagi lagi ke subscriber,” ujar Yang kepada TechCrunch dalam wawancara di podcast Equity. “Idenya, kamu bakal senang, tetap pakai layanan kami, dan mungkin ngasih tahu teman serta keluarga.”
Uang yang dikembalikan, kata Yang, jika diinvestasikan dan berbunga majemuk selama 40 tahun bisa menjadi US$ 24.000 — cukup untuk uang muka pensiun.
Gagasan ini bukan muncul tiba-tiba. Saat kampanye presiden 2020, Yang mengusung Universal Basic Income (UBI) sebagai jawaban atas hilangnya pekerjaan akibat AI. Kampanye itu gagal, tapi tesisnya makin relevan.
“AI bakal menyedot banyak nilai dan pekerjaan. Orang Amerika nanti bertanya, ‘Bagaimana saya memenuhi kebutuhan dasar?’” kata Yang. Ia yakin memenuhi kebutuhan dengan harga lebih murah adalah “ladang peluang yang sangat kaya.”
Kini Yang masih mendorong UBI, tapi ia ragu pemerintah bakal jadi kendaraan redistribusi yang efektif. “Ada ruang untuk hubungan langsung antara uang dan rakyat,” ujarnya. Di situlah pasar masuk. Noble Mobile adalah bukti konsepnya: sejak September, perusahaan telah mengantongi “ribuan pelanggan” dan “pendapatan jutaan dolar.”
Meski terbukti menghasilkan uang, model bisnis margin tipis plus misi sosial masih sulit menarik investor. Modal saat ini terkonsentrasi di AI.
“Setidaknya satu investor bilang ke saya, ‘Andrew, saya suka kamu, mau kerja sama — kalau kamu bisa bikin ini jadi perusahaan AI, kami akan danai,’” ungkap Yang.
Ia optimistis angin bakal berubah. “Nilai yang terkonsentrasi di segelintir orang dan perusahaan itu buruk buat semua orang,” katanya. “Ada beberapa orang di Silicon Valley yang mulai terbuka karena mereka tidak mau harus menyewa satpam pribadi.”
Yang tidak berhenti di seluler. Ia membuat daftar sektor lain yang dinilai terlalu mahal: perumahan, pendidikan, makanan, bahan bakar, transportasi, media, dan nirkabel. Contoh startup yang sudah bergerak di jalur serupa termasuk Misfits Market (grosir bahan makanan online) dan Light Phone (pembuat ponsel “dumb phone” minimalis).
“Pikirkan lebih besar dan lebih luas tentang menyelesaikan masalah. Jangan terlalu ikut arus pikir kelompok,” pesan Yang kepada para pendiri startup dan investor. “Karena masih banyak peluang berharga di luar sana.”