KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kementerian Pertahanan Jepang mengonfirmasi, dalam pertemuan itu Koizumi dan Prabowo sepakat bahwa penguatan kapasitas penangkalan maritim Indonesia—yang berada di jalur pelayaran strategis dunia—berkontribusi langsung pada stabilitas Jepang dan kawasan. Prabowo disebut menyambut baik gagasan tersebut dan mendorong agar kerja sama peralatan pertahanan membuahkan hasil nyata.
Pekan sebelumnya, kepala pertahanan kedua negara telah menyetujui dimulainya pembicaraan tingkat kerja mengenai kemungkinan ekspor kapal perusak kelas Asagiri ke Indonesia. Kapal jenis ini merupakan aset utama Angkatan Laut Bela Diri Jepang yang telah dimodernisasi.
Dalam pertemuan terpisah pada hari yang sama, Koizumi dan Sjafrie mendorong kemitraan pertahanan yang lebih komprehensif. Menurut pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Jepang, kerja sama itu mencakup transfer alutsista, pelatihan, pemeliharaan, hingga operasi peralatan pertahanan.
Indonesia selama ini menghadapi tantangan pengamanan jalur laut Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang padat lalu lintas kapal dagang dan rawan pelanggaran. Kapal perusak Jepang dinilai memiliki kemampuan deteksi dan penangkalan yang lebih canggih dibandingkan armada yang dimiliki TNI AL saat ini.
Pertukaran informasi maritim sensitif juga menjadi poin krusial. Data intelijen yang dibagikan dapat digunakan untuk memantau aktivitas ilegal seperti penangkapan ikan ilegal, penyelundupan, dan potensi sengketa batas maritim.
Langkah ini tidak bisa dilepaskan dari strategi Jepang dalam beberapa tahun terakhir untuk mempererat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara. Tokyo secara konsisten meningkatkan kerja sama pertahanan dengan mitra di kawasan di tengah menguatnya pengaruh China di Laut China Selatan dan Samudra Pasifik.
Bagi Indonesia, kerja sama ini juga menjadi sinyal diversifikasi mitra pertahanan di luar negara-negara Barat. Selama ini Indonesia banyak bergantung pada Amerika Serikat, Rusia, dan Korea Selatan untuk pengadaan alutsista besar.
Pembicaraan tingkat kerja mengenai transfer kapal perusak dan alutsista lainnya dijadwalkan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Kementerian Pertahanan RI belum merilis pernyataan resmi mengenai detail teknis maupun nilai kontrak yang dibahas.
Koizumi, yang merupakan putra mantan Perdana Menteri Junichiro Koizumi, menyebut kunjungannya ke Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat kemitraan strategis Jepang-ASEAN. Ia juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah pangkalan militer TNI AL di kawasan timur Indonesia untuk meninjau langsung kebutuhan operasional.