BYD Cetak Penjualan 5.264 Unit pada Juni 2026, Lonjakan 488 Persen Belum Cerminkan Pasar Matang

Penulis: Monang Simanjuntak  •  Selasa, 21 Juli 2026 | 10:17:31 WIB
Penjualan BYD pada Juni 2026 mencapai 5.264 unit, meningkat 488 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan BYD pada Juni 2026 mencapai 5.264 unit, melonjak drastis dibandingkan bulan sebelumnya. Jaecoo juga mencatatkan pertumbuhan dengan penjualan 3.050 unit atau naik 1,7 persen secara bulanan. Meski angka ini menggembirakan, analis menilai pasar kendaraan listrik di Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar.

Ekosistem Belum Siap, Depresiasi Harga Jadi Momok

Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menegaskan bahwa kenaikan penjualan saat ini belum merefleksikan ekosistem yang sehat. "Tantangan terbesar justru berada pada ekosistemnya, yakni nilai jual kembali yang masih belum stabil, pasar kendaraan listrik bekas yang belum terbentuk kuat, serta kekhawatiran terhadap kondisi baterai setelah masa garansi," ujarnya, Senin (20/7).

Menurut Yannes, selama pasar mobil listrik bekas belum berkembang dan depresiasi harga masih sulit diprediksi, masyarakat akan tetap berhati-hati. Kondisi ini berbeda dengan pasar mobil konvensional yang sudah memiliki skema harga bekas yang lebih jelas dan likuid.

SPKLU Belum Merata, Ketergantungan pada Charging di Rumah Tinggi

Persoalan infrastruktur juga masih menjadi ganjalan. Pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) dinilai belum merata, terutama di luar kota-kota besar. Akibatnya, sebagian besar pemilik mobil listrik masih sangat bergantung pada fasilitas pengisian daya di rumah masing-masing.

Yannes menekankan bahwa keberhasilan adopsi EV tidak bisa diukur hanya dari angka penjualan. "Keberhasilan adopsi EV akan ditentukan oleh konsistensi kebijakan pemerintah, percepatan pembangunan SPKLU dan SPBKLU, pengembangan industri daur ulang baterai, serta terbentuknya pasar kendaraan listrik bekas yang lebih sehat," katanya.

Penurunan Harga Baterai dan Biaya Operasional Jadi Sinyal Positif

Di sisi lain, prospek kendaraan listrik di Indonesia masih dinilai positif. Penurunan harga baterai global, semakin banyak pilihan model, serta biaya operasional yang lebih murah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil diperkirakan akan terus mendorong pertumbuhan pasar. Namun, Yannes mengingatkan bahwa kematangan pasar kendaraan listrik baru bisa tercapai jika ekosistem mampu memberikan kepastian kepada konsumen selama masa kepemilikan kendaraan.

Reporter: Monang Simanjuntak
Sumber: radarsurabayabisnis.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top