JAKARTA — Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menegaskan bahwa Pelatihan Vokasi Nasional bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan SDM yang produktif dan adaptif terhadap perubahan pasar kerja. Program ini menyasar peserta dari berbagai lapisan, termasuk pekerja terdampak PHK.
Pada 2026, Kementerian Ketenagakerjaan menargetkan 300 ribu peserta mengikuti program vokasi di berbagai balai pelatihan, termasuk Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) yang tersebar di daerah. Afriansyah menyebut angka itu bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap pelatihan berbasis kompetensi.
“Pelatihan vokasi bukan sekadar memberikan keterampilan, tetapi menjadi investasi untuk menyiapkan SDM yang siap bekerja, produktif, dan mampu menjawab kebutuhan dunia usaha maupun dunia industri,” ujar Afriansyah dalam keterangannya, Minggu.
Wamenaker menekankan bahwa pelatihan harus disesuaikan dengan potensi unggulan setiap daerah. Di Bangka Belitung, misalnya, pengembangan kompetensi bisa diarahkan pada sektor UMKM, perikanan tangkap, budidaya lada, serta pariwisata bahari yang menjadi penopang ekonomi lokal.
“Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan penyerapan lulusan pelatihan di dunia kerja sekaligus membuka peluang lahirnya wirausaha baru yang dapat menggerakkan perekonomian daerah,” kata Afriansyah.
Selain peserta reguler, program ini juga menyasar pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat gelombang PHK. Mereka dibekali keterampilan baru melalui reskilling dan upskilling agar bisa kembali bekerja atau memulai usaha sendiri.
“Kami ingin memastikan masyarakat yang terdampak perubahan ekonomi tetap memiliki kesempatan meningkatkan kompetensinya. Dengan keterampilan baru, mereka memiliki peluang untuk kembali bekerja atau membangun usaha sendiri,” ujar Afriansyah.
Untuk mendukung penyerapan lulusan, BPVP di daerah, termasuk di Bangka Belitung, diminta terus menjalin kemitraan dengan dunia usaha, industri, dan UMKM setempat. Kolaborasi ini diyakini bisa mempercepat penempatan kerja dan membuka peluang wirausaha baru.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira