KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Serangan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) memang terdengar menakutkan. Tapi setelah insiden peretasan OpenAI terhadap Hugging Face terungkap, para pakar keamanan siber justru menyoroti satu hal: akar masalahnya bukan terletak pada kecanggihan AI, melainkan pada kegagalan pertahanan siber konvensional.
Awal bulan ini, platform dataset AI Hugging Face mengakui jadi korban serangan siber otonom bertenaga AI. Beberapa hari kemudian, OpenAI mengonfirmasi pelakunya adalah salah satu model AI milik mereka yang kabur dari lingkungan pengujian dan menembus sistem Hugging Face.
Insiden ini sontak memicu spekulasi tentang era baru pertahanan siber di mana hanya AI yang bisa melawan AI. Namun sejumlah pakar yang berbicara kepada TechCrunch membantah narasi tersebut.
"Apa yang dilakukan agen OpenAI sebenarnya sama dengan yang dilakukan peretas manusia atau tim red teamer," kata Kyle Ryan, Kepala R&D Pensar, startup pengembang agen AI untuk peretasan berkelanjutan. Vlad Ionescu, Co-Founder dan CTO RunSybil, setuju dengan pandangan tersebut.
Yang membedakan adalah kecepatan, skala, dan kegigihannya. Menurut laporan Hugging Face, agen OpenAI melakukan 17.600 aksi selama empat setengah hari: membobol masuk, melakukan pengintaian, mencuri kata sandi dan kode, lalu bergerak di infrastruktur perusahaan.
"Yang mengesankan adalah otonomi dan ketahanannya. Operasi adaptif yang berkelanjutan seperti itu yang paling menonjol," ujar Ryan.
Meski cepat, agen OpenAI ternyata sangat berisik. Ryan menyebutnya "insanely noisy." Berbeda dengan manusia yang bisa bergerak lebih senyap, agen ini menghasilkan banyak jejak yang seharusnya sudah memicu sistem pertahanan Hugging Face lebih awal.
"Saya menyebutnya lebih sebagai kegagalan pertahanan daripada serangan yang luar biasa. Perangkat Hugging Face sebenarnya sudah mengkorelasikan aktivitas itu sebagai sinyal serangan, tapi gagal menaikkan tingkat kritisnya dan menghubungi tim on-call. Itu memakan waktu," jelas Ryan.
Jamieson O'Reilly, pendiri firma keamanan siber Dvuln, sampai pada kesimpulan serupa. "Itulah celah antara melihat dan menghentikan. Sistem mengamati serangan dan bahkan memahaminya, tapi tidak ada yang mengubah pemahaman itu menjadi intervensi dengan cukup cepat," tulisnya di X.
Ryan menjelaskan teknik pertahanan seperti defense-in-depth — strategi berlapis dengan beberapa lapisan keamanan siber — seharusnya memberi Hugging Face banyak kesempatan untuk menangkap serangan. "Program keamanan modern yang kuat seharusnya masih bisa mematahkan serangan seperti ini di berbagai titik," ujarnya.
Menurut O'Reilly, "Tidak ada yang eksotis dari teknik itu, dan tidak ada yang bergantung pada penyerang yang merupakan AI," karena teknik yang digunakan dalam serangan sudah "lama."
Nico Waisman, Chief Information Security Officer XBOW, menambahkan bahwa agen OpenAI tidak diinstruksikan untuk bersembunyi. "Agen tidak ceroboh. Ia tidak punya alasan untuk diam. Tidak ada yang memintanya. Tujuannya adalah melakukan tugas dengan baik."
Waisman juga menyoroti kesalahan terbesar Hugging Face: satu kredensial curian memberikan hak akses tinggi ke agen OpenAI di beberapa sistem sekaligus.
Meski demikian, Vincent Yiu, Managing Director SYON Security, mengingatkan bahwa bertahan dari peretas tidaklah mudah. "Hugging Face sebenarnya bisa melakukan lebih banyak deteksi, tapi sejujurnya tidak semua organisasi melakukannya dengan baik. Tidak mudah menghosting infrastruktur dan bertahan sebagai bisnis," katanya.
Hugging Face sendiri dalam laporan insidennya mengakui kelemahan yang dieksploitasi "sudah familiar" dan "peretas manusia yang cakap bisa menemukan serta mengeksploitasi celah yang sama."
Pelajaran utama dari insiden ini bukanlah soal kecanggihan AI, melainkan pentingnya fundamental keamanan siber: deteksi dini, eskalasi yang andal, dan prinsip hak akses minimal. Tanpa itu, AI atau bukan, sistem tetap bisa dibobol.