Inflasi Juli 2026 Terkendali di 2,88 Persen, PMI Manufaktur Kembali Ekspansif dan Neraca Dagang Membaik

Penulis: Parsaoran Hutapea  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 10:00:31 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan resmi terkait inflasi Juli 2026 yang tercatat 2,88 persen.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa tiga indikator makroekonomi terbaru tersebut menjadi bukti ketahanan fundamental ekonomi Indonesia. Selain inflasi yang mereda, performa neraca perdagangan periode Juni 2026 juga membaik, menambah sentimen positif bagi pelaku usaha dan investor.

"Pemerintah optimistis perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh secara berkelanjutan dengan terjaganya inflasi, ekspansi sektor manufaktur, dan membaiknya neraca perdagangan," ujar Airlangga dalam keterangan resmi, Senin (3/8/2026).

Penurunan Harga Pangan Jadi Pendorong Utama Inflasi Terkendali

Meredanya tekanan harga pada Juli 2026 utamanya didorong oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan strategis. Bawang merah, tomat, telur ayam ras, dan cabai rawit mengalami penurunan harga seiring berjalannya masa panen di berbagai sentra produksi.

Dari sisi komponen, inflasi inti bertahan di level 2,76 persen (yoy). Angka ini mencerminkan ekspektasi inflasi publik yang tetap terjangkau di tengah dinamika harga pangan.

Sementara itu, inflasi Administered Prices (AP) tercatat lebih tinggi di angka 3,58 persen (yoy). Komponen ini dipengaruhi oleh faktor base effect penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada Juni 2026 serta dinamika kenaikan tarif angkutan udara.

Komitmen Pemerintah Jaga Daya Beli dan Daya Saing

Pemerintah menempatkan penjagaan pada aspek ketahanan pangan, ketahanan energi, dan laju inflasi sebagai pilar utama kebijakan ekonomi. Langkah ini ditempuh untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menguatkan daya saing ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Airlangga menambahkan, pemerintah berkomitmen penuh untuk memelihara keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga. Kepercayaan dunia usaha menjadi perhatian utama, mengingat ekspansi sektor manufaktur dan perbaikan neraca perdagangan merupakan sinyal positif bagi iklim investasi.

Dengan inflasi yang solid di dalam kisaran target 2,5±1 persen, ruang bagi pemerintah untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi dinilai semakin terbuka. Kombinasi data inflasi, manufaktur, dan perdagangan ini menjadi modal berharga untuk menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun.

Reporter: Parsaoran Hutapea
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top