KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Evakuasi terhadap Mahdi berlangsung di gorong-gorong yang diketahui memiliki dimensi sangat sempit, mempersulit gerak petugas saat melakukan pertolongan. Kejadian ini bermula ketika Mahdi tengah membersihkan sumbatan yang menyebabkan aliran air tersendat. Musibah ini menjadi pengingat akan risiko pekerjaan pemeliharaan infrastruktur kota yang kerap luput dari perhatian.
Tim pemadam kebakaran (damkar) yang tiba di lokasi langsung melakukan asesmen terhadap kondisi gorong-gorong. Kedalaman dan sempitnya saluran membuat petugas tidak bisa leluasa bergerak, bahkan untuk menjangkau posisi korban. Peralatan standar pun harus disesuaikan agar tidak membahayakan Mahdi yang terjebak dalam posisi sulit.
Upaya evakuasi dilakukan secara bertahap dengan memastikan pasokan udara bagi korban tetap terjaga. Petugas juga berkomunikasi secara intensif dengan Mahdi untuk menjaga kondisinya tetap stabil secara psikis selama proses penyelamatan berlangsung. Butuh waktu yang tidak singkat bagi tim untuk akhirnya berhasil mengeluarkan pria tersebut dari gorong-gorong.
Pembersihan gorong-gorong merupakan pekerjaan berisiko tinggi yang seringkali dilakukan tanpa prosedur keselamatan yang memadai. Sempitnya ruang gerak, minimnya penerangan, serta potensi gas beracun menjadi ancaman serius bagi pekerja. Insiden yang menimpa Mahdi ini menunjukkan bahwa pekerjaan informal semacam ini kerap mengabaikan standar keselamatan kerja.
Kondisi gorong-gorong di sejumlah wilayah perkotaan yang kerap tersumbat sampah menjadi pemicu utama warga atau petugas kebersihan melakukan aksi pembersihan mandiri. Tanpa alat bantu pernapasan dan tali pengaman, risiko terjebak atau kehabisan oksigen sangat tinggi. Kejadian di Bogor ini menambah daftar panjang kecelakaan kerja akibat pemeliharaan infrastruktur yang tidak dianggap sebagai pekerjaan berbahaya.
Peristiwa ini menyoroti celah perlindungan keselamatan bagi pekerja informal yang kerap menangani infrastruktur publik secara mandiri. Berbeda dengan pekerja formal yang dilindungi aturan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), pekerja semacam ini tidak memiliki jaminan prosedur maupun alat pelindung diri yang layak. Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan perhatian lebih pada aspek keselamatan warga yang melakukan gotong royong pembersihan fasilitas umum.
Setelah berhasil dievakuasi, Mahdi dilaporkan dalam kondisi selamat dan mendapatkan penanganan medis untuk memulihkan kondisinya. Insiden ini pun menjadi pelajaran berharga bagi warga sekitar agar tidak memaksakan diri membersihkan saluran air tanpa pendampingan dan peralatan yang memadai. Koordinasi dengan pihak kelurahan atau dinas terkait sebelum melakukan pekerjaan serupa sangat disarankan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.