BELITUNG TIMUR — Aksi unjuk rasa berlangsung di depan kantor Unit PT Timah Belitung, Kecamatan Gantung, sejak pukul 09.00 WIB. Massa yang datang membawa tuntutan agar perusahaan menormalisasi penyerapan bijih timah dari masyarakat, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi warga setempat.
Pantauan di lokasi menunjukkan area depan kantor dipenuhi massa hingga ke ruas jalan utama. Arus lalu lintas dari arah Pujamas Gantung menuju Pasar Gantung dan sebaliknya sempat terganggu, sehingga kendaraan dialihkan ke jalur alternatif.
Para penambang mengaku kesulitan menjual bijih timah sejak sejumlah kolektor atau penampung menghentikan aktivitas pembelian. Kebijakan pembelian minimal Rp 170 ribu per kilogram untuk kadar Sn 72 dinilai memberatkan para penampung yang tidak memiliki modal cukup.
Akibatnya, hasil tambang yang sudah dikumpulkan warga menumpuk dan tidak bisa dipasarkan. Kondisi ini langsung berdampak pada pendapatan harian keluarga penambang di Gantung dan sekitarnya.
Yang menarik dari aksi kali ini, massa tidak hanya didominasi kaum laki-laki. Sejumlah ibu-ibu turut hadir dan mengaku ikut memperjuangkan nasib keluarga yang pendapatannya bergantung penuh pada aktivitas pertambangan timah.
Mereka berharap PT Timah segera merespons keluhan ini agar roda ekonomi warga kembali berputar. Hingga aksi berlangsung, tidak terlihat pihak manajemen atau petinggi PT Timah yang menemui massa.
Aparat kepolisian tampak berjaga di sekitar kantor Unit PT Timah untuk mengamankan jalannya aksi. Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi masih terkendali dan belum ada laporan mengenai tindakan anarkis dari para demonstran.
Belum ada keterangan resmi dari pihak PT Timah terkait tuntutan para penambang. Masyarakat berharap ada solusi cepat agar aktivitas penambangan dan penjualan bijih timah bisa kembali normal seperti sebelumnya.