PANGKALPINANG — Ribuan personel gabungan dikerahkan Polda Kepulauan Bangka Belitung dalam operasi pencegahan karhutla tahun 2026. Langkah ini diambil menyusul prediksi cuaca panas yang lebih panjang dari biasanya, yang membuat semak belukar dan lahan kering semakin mudah terbakar.
Apel gelar pasukan penanggulangan bencana karhutla digelar di Pangkalpinang pada Senin lalu. Dalam kesempatan itu, Kapolda Kepulauan Babel Irjen Pol Viktor T. Sihombing menyampaikan peringatan keras kepada seluruh pihak.
"Kita akan melakukan penegakan hukum kepada para pelaku pengusaha dan masyarakat yang dengan sengaja melakukan pembakaran lahan ini," kata Viktor T. Sihombing usai memimpin apel.
Ia menegaskan larangan membuka lahan dengan cara dibakar tidak bisa ditawar. Ancaman pidana mengintai siapa saja yang nekat melanggar, terutama di tengah kondisi cuaca yang sangat kering saat ini.
Meski ancaman hukum ditegaskan, pendekatan persuasif tetap menjadi garda terdepan. Polda menilai edukasi kepada masyarakat jauh lebih efektif mencegah karhutla dibandingkan penindakan setelah api membesar.
"Saat ini, kami lebih mengutamakan untuk mengimbau masyarakat dengan tidak membakar dalam membuka lahan baru, termasuk membakar sampah tanpa diawasi. Terkadang membakar sampah yang kelihatan kecil dan jika dibiarkan maka apinya akan membesar," ujarnya.
Viktor mengingatkan bahwa titik api sering kali bermula dari hal sepele. Membakar sampah di pekarangan tanpa pengawasan, misalnya, bisa dengan cepat merambat ke lahan kering di sekitarnya.
Kondisi itu diperparah oleh fenomena El Nino yang membuat vegetasi di lahan dan hutan kehilangan kelembapan. Dalam beberapa pekan terakhir, suhu panas di Bangka Belitung memang sempat sedikit menurun, namun potensi kebakaran tetap tinggi.
"Dalam beberapa terakhir ini, kondisi cuaca panas di Kepulauan Bangka Belitung sudah agak menurun, namun demikian kesiapsiagaan semua pihak dan masyarakat harus tetap dijaga dan ditingkatkan lagi," kata Kapolda.
Operasi pencegahan ini melibatkan kolaborasi lintas instansi, mulai dari TNI, BPBD, Basarnas, hingga pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota se-Kepulauan Babel. Mereka akan bersinergi melakukan patroli dan sosialisasi ke titik-titik rawan.
Masyarakat diimbau aktif melaporkan jika menemukan titik api atau aktivitas mencurigakan di lahan kosong. Deteksi dini dinilai krusial untuk mencegah meluasnya kebakaran sebelum api sulit dikendalikan.