PANGKALPINANG — Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Kepulauan Babel Slamet Supriyadi menyampaikan musim kemarau tahun ini diprakirakan baru berakhir pada rentang Januari hingga Februari 2027. Pernyataan ini disampaikannya saat menghadiri apel gelar pasukan penanggulangan bencana karhutla 2026 di Pangkalpinang, Senin.
BMKG meminta masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan selama periode kemarau serta mulai menyiapkan alternatif sumber air bersih. Hal ini untuk mengantisipasi potensi krisis air yang kerap terjadi di sejumlah wilayah Kepulauan Babel saat puncak kemarau.
Slamet menjelaskan puncak kemarau tahun ini diprakirakan terjadi pada September 2026. Ia menegaskan bahwa puncak musim kemarau tidak sama dengan berakhirnya musim kemarau, sehingga masyarakat tidak boleh lengah.
"Puncak musim kemarau ini merupakan puncak tertinggi musim kemarau dan belum tentu berakhir pada puncak musim tersebut," ujarnya.
BMKG terus memantau perkembangan dampak fenomena El Nino, apakah semakin menguat, tetap, atau justru semakin melemah. Lembaga ini juga akan merilis kembali informasi terbaru terkait kapan berakhirnya musim kemarau dan awal musim hujan di daerah itu.
Gubernur Kepulauan Babel Hidayat Arsani memastikan kesiapan seluruh personel BPBD, Damkar, Polri, TNI, Basarnas, dan instansi lainnya dalam mencegah serta menanggulangi karhutla dan kekeringan selama musim kemarau ini.
"Alhamdulillah, hingga saat ini kondisi di Kepulauan Babel aman, terkendali dan belum ada ditemukan daerah-daerah yang mengalami kekeringan," katanya.
Meski kondisi terkendali, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat puncak kemarau yang diprakirakan terjadi pada September mendatang. Masyarakat diimbau untuk memanfaatkan air secara bijak dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar.