“Air merupakan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu, termasuk dengan mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo.
Jakarta – Pernyataan itu disampaikan Menteri Dody di tengah upaya Kementerian PU yang terus berakselerasi menangani kekeringan yang melanda areal persawahan di Daerah Irigasi (DI) Bengawan Jero, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Langkah konkret telah dijalankan melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, yang melakukan normalisasi sungai dan pembuatan alur air sepanjang 1.670 meter pada Minggu (23/8).
Dalam operasi tersebut, sejumlah alat berat dikerahkan ke lokasi untuk mempercepat distribusi air. Pompa air pun disiapkan guna meningkatkan debit sekaligus memperlancar suplai air menuju jaringan irigasi. Kementerian PU menegaskan komitmennya memperkuat kesiapsiagaan dan respons terhadap dampak kekeringan, terutama melalui optimalisasi sumber daya air yang tersedia demi menjaga keberlanjutan layanan irigasi bagi masyarakat.
Penanganan kekeringan di DI Bengawan Jero ini difokuskan pada normalisasi Sungai Deket atau anak Sungai Blawi, Sungai Corong, dan Sungai Malang. Pembukaan alur sungai dilakukan agar aliran air dari Sungai Blawi lebih lancar, sehingga bisa dimanfaatkan untuk pemompaan menuju jaringan irigasi. Hasilnya, areal persawahan di Desa Soko, Kecamatan Glagah, serta Desa Ketapangtelu, Kecamatan Karangbinangun, Kabupaten Lamongan, bisa terairi kembali.
Sebanyak 3 unit excavator amphibi telah dikerahkan untuk normalisasi aliran Sungai Deket, bersamaan dengan pengoperasian 1 unit excavator amphibi milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Secara kumulatif, pembuatan alur air dan normalisasi sungai telah mencapai sekitar 1.670 meter.
Untuk menambah debit air, Kementerian PU juga memobilisasi 2 unit mobile pump ke Pintu Melik II, serta menempatkan 3 unit pompa Alkon berukuran 6 inci dan 3 unit berukuran 3 inci. Sumber air untuk pemompaan diambil dari Sungai Blawi dan Sungai Bengawan Solo.
Kepala BBWS Bengawan Solo Gatut Bayuadji menambahkan, upaya penanganan kekeringan akan terus dilanjutkan untuk memastikan lahan persawahan tetap teraliri. Hal ini penting agar produktivitas pertanian tidak menurun dan mampu mendukung program swasembada pangan nasional.
"Dari total areal persawahan seluas 539,80 hektare yang terdampak kekeringan di DI Bengawan Jero, hingga saat ini sekitar 426,80 hektare telah berhasil terairi. Saat ini, masih terdapat sekitar 113 hektare sawah di bagian hilir yang belum mendapatkan suplai air. Senin (24/8) pelaksanaan normalisasi Sungai Deket dan pemompaan air dari Sungai Bengawan Solo ke Sungai Blawi akan dilanjutkan kembali," jelas Gatut.
Ke depan, Kementerian PU berencana melanjutkan normalisasi Sungai Deket dan pemompaan air dari Sungai Bengawan Solo menuju Sungai Blawi. Pembuatan alur sungai juga akan diteruskan sesuai permohonan Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) dengan panjang sekitar 4 km. Targetnya, distribusi air ke wilayah persawahan semakin lancar. Dengan begitu, Kementerian PU memastikan infrastruktur sumber daya air tetap berfungsi optimal di tengah kondisi kekeringan, sekaligus menjaga keberlanjutan layanan irigasi dalam mendukung swasembada pangan.