Erajaya Genap 30 Tahun, dari 5 Karyawan ke Fortune SEA 500

Penulis: Alfian Batubara  •  Senin, 14 September 2026 | 20:07:01 WIB
Erajaya menutup 30 tahun perjalanan usaha pada 2026.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — PT Erajaya Swasembada Tbk menutup 30 tahun perjalanan pada 2026. Perusahaan yang berdiri 8 Oktober 1996 itu kini menempati peringkat ke-84 dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 2026, naik dari posisi ke-89 pada tahun sebelumnya. Ini tahun ketiga berturut-turut Erajaya masuk daftar tersebut.

Pencapaian itu menandai pergeseran panjang dari bisnis ritel ponsel sederhana menjadi bagian dari ekosistem gaya hidup digital Indonesia. Perjalanan Erajaya berjalan seiring perubahan cara masyarakat mengakses teknologi.

Dari Pager ke Smartphone dalam Tiga Dekade

Tahun 1996, ponsel masih barang mahal dan belum jadi benda umum. Masyarakat mengandalkan telepon umum, telepon rumah, atau pager untuk berkomunikasi. Internet baru di tahap awal pengembangan, mesin pencari dan media sosial belum populer, sementara layanan streaming video sama sekali belum terdengar.

Erajaya memulai bisnis di tengah lanskap itu dengan 5 karyawan. Jaringan seluler GSM di Indonesia baru dirintis. Telkomsel yang lahir Mei 1995 baru menjangkau seluruh provinsi pada Desember 1996. Tiga tahun berselang, jumlah pelanggan GSM nasional baru mencapai 1,5 juta orang.

Kondisi kini berbalik. Perusahaan riset Exploding Topics mencatat pengguna smartphone Indonesia mencapai 187,7 juta orang pada 2025, sekitar 68,1 persen total populasi. Smartphone menjelma kamera, televisi, pemutar musik, konsol gim, peta, hingga alat pembayaran dalam satu perangkat. Fitur kecerdasan buatan kini tersedia di berbagai model untuk membantu menulis, menganalisis, menerjemahkan, membuat gambar, dan mengembangkan ide.

Penetrasi Internet Tembus 235 Juta Pengguna

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026 menunjukkan pengguna internet Indonesia menembus 235,26 juta jiwa, setara 81,72 persen dari total populasi 287,3 juta penduduk. Tren lima tahun terakhir konsisten naik: 77 persen pada 2022, 78,2 persen pada 2023, 79,5 persen pada 2024, 80,7 persen pada 2025, dan 81,72 persen pada 2026.

Ketua Umum APJII, Muhammad Arif, menilai posisi internet dalam kehidupan masyarakat sudah bergeser jauh.

"Internet saat ini bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan publik masyarakat Indonesia," katanya.

Ponsel Jadi Pusat Produktivitas dan Transaksi

Fungsi ponsel bergeser dari alat komunikasi menjadi pintu gerbang aktivitas modern. Karyawan memakainya untuk produktivitas, mahasiswa untuk akses pengetahuan, pelaku UMKM sebagai kanal penjualan, dan anak muda sebagai ruang bekerja sekaligus bermain.

Pandemi Covid-19 mempercepat pergeseran itu. Jutaan pekerja memindahkan aktivitas profesional ke ruang digital, bekerja dari rumah melalui smartphone maupun laptop. Pola WFH kini jadi bagian budaya kantor.

Dampaknya terlihat pada skala ekonomi. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat ekonomi digital Indonesia diperkirakan mendekati nilai transaksi bruto (GMV) USD 100 miliar pada 2025, terbesar di Asia Tenggara, dengan e-commerce sebagai kontributor utama.

Survei APJII 2026 mencatat 18,7 persen alasan masyarakat menggunakan internet adalah untuk transaksi e-commerce dan layanan digital lainnya. Angka ini menegaskan ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan pusat aktivitas ekonomi.

Adaptasi Jadi Kunci Bertahan Tiga Dekade

Bagi perusahaan ritel, bertahan 30 tahun bukan perkara mudah. Pesaing kuat bermunculan, cara membeli berubah, merek yang dulu dominan bisa kehilangan relevansi, dan kebutuhan konsumen baru terus muncul.

Budiarto Halim, CEO PT Erajaya Swasembada Tbk, merangkum perjalanan itu sebagai proses pembelajaran panjang.

"Tiga puluh tahun merupakan perjalanan yang penuh pembelajaran, adaptasi, dan transformasi bagi Erajaya," katanya.

Menurutnya, Erajaya berhasil membangun bisnis yang adaptif dan relevan di tengah dinamika pasar. Posisi di Fortune Southeast Asia 500 2026 jadi salah satu buktinya.

Perjalanan Erajaya mencerminkan pola yang lebih luas di pasar Indonesia. Ketika perangkat dan konektivitas makin terjangkau, peluang bisnis bergeser dari sekadar menjual hardware ke layanan digital, transaksi, dan ekosistem yang menempel pada smartphone. Bagi pelaku bisnis digital dan investor, tiga dekade Erajaya menunjukkan bahwa bertahan di pasar teknologi lokal menuntut kemampuan membaca pergeseran perilaku konsumen lebih cepat dari kompetitor.

Reporter: Alfian Batubara
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top